Beberapa kali mampu melakukan intersep dan menutup ruang di saat timnas tertekan. Seketika beralih fungsi menyerang, Ricky sudah berada di depan kotak 16. Penampilannya yang konstan-nyaris-tak-diganti selama turnamen adalah pembuktian tak terbantahkan dari stamina yang prima.
Kedua, ketenangan dan skil individu. Ricky hampir tak pernah menunjukan kepanikan. Penampilannya cenderung kalem.Â
Ketika dirinya memegang bola dan dikepung beberapa pemain lawan, ia tetap tak kehilangan kontrol bola. Tak jarang, ia melakukan manuver ke kotak 16 dengan dribling yang licin. Seperti yang dilakukannya kala melawan Singapura dan Thailand.Â
Pendek kata, di kaki dan kepala Ricky, selalu ada usaha menghancurkan kebuntuan.
Ketiga, visi yang tajam dan positioning. Keunggulan Ricky kala menyerang adalah visinya dalam melihat celah di pertahanan lawan.Â
Misalnya adalah gerak tipunya di pertahanan Malaysia yang membuat celah menganga. Celah ini dimanfaatkan Irfan Jaya yang sukses membuat kedudukan imbang. Atau ketika posisinya yang ideal ketika menerima umpan datar dari Witan.Â
Dengan sekali kontrol dan sepakan menyusur tanah, bola lepas dari tangkapan kiper Thailand di menit ke-7.Â
Keempat, nyali dan pengorbanan diri. Untuk yang satu ini, Ricky tergolong yang tak segan-segan beradu fisik dengan pemain lawan. Ricky juga siap pasang badan jika rekan setimnya dikasari. Nyali seperti ini dibutuhkan gelandang yang selalu harus stanby dalam dua situasi. Â
Demikianlah sedikit yang bisa diapresiasi dari sosok Ricky Kambuaya. Kepercayaan Shin Tae-yong yang dibalas dengan tuntas telah menjadikannya idola dan harapan baru. Kehadirannya telah memberi ciri yang "artisitik atau nyeni" khas talenta Papua.Â
Ricky Kambuaya, tak pelak lagi, adalah salah satu eksperimen sukses warisan Shin Tae-yong yang penting. Â
No Ricky, No Party! Hormaaat.Â