di altar cuci piring, kita adalah benda-benda yang belajar gembira
ingin selamanya berguna dan memberikan sukacita
kita hidup di antara apa
yang dinasibkan sebagai penyangga
atau dipersembahkan untuk saksi bisu saja
di altar cuci piring, pengorbanan kita hanyalah busa yang luluh,
membasuh lantas keruh. hilang dari cerita dan waktu
dilupakan terlalu cepat, dihabiskan terlalu kemaruk
serupa kegalauan di pasar puisi atau industri lagu sendu
Seperti iklan,"berani kotor
itu baik", orang tidak pernah bertanya, bagaimana
membersihkan siapa? orang tidak membaca siapa di balik apa.
di altar cuci piring, nasib kita adalah jalan biasa orang-orang tua,
kelak menuruti arus, menguap ke udara hingga bergabung di biru lautan.
yang fana ialah siklusnya, kita berjuang tidak sia-sia
bahagia atau pura-pura, air comberan tetaplah air: menampung dan berlalu.
di altar cuci piring, di hidup yang sesekali miring lagi garing,
kita dilahirkan percakapan riuh di pikiran sendiri
di altar cuci piring, diam-diam kita merayakan ketidak-kekalan
***
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI