jadi, ia berserah sepagi ini,
belum melamun semenjak tadi.
segelas kopi yang cemar,
sesendok kikir madu bakau
bergelombang mengisi pikirannya
meski wajahmu tambah sukar bertukar
malam sepertinya telah menjadi
milik satu-satunya, bisa memaksa berkelahi
tanpa akan bercerai;
sebagaimana keheningan
seketika mencekam, sepuasnya meremukrajam
sementara orang-orang tak mampu pindah
dari takdirnya
sebegitulah ia
di depan matamu
dengan timbunan peristiwa
pernah tiba-tiba indah, kemudian cuma nelangsa
hati bukan tempat luar biasa
kecuali bagi sendu dan daftar marabahaya
yang bersembunyi sambil terus
memakan dirinya sendiri
jadi, ia berserah sepagi tadi,
oleh marabahaya di batang lehernya
tak lagi ada kabar
sebelum fajar.
[Petai, tinggal di tanggal tunggal]
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI