Mohon tunggu...
Hastuti Hasyim
Hastuti Hasyim Mohon Tunggu... -

Dokter Umum dan Ibu Rumah Tangga

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Siapa Pembela Kaum Buruh?

4 November 2012   09:53 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:59 151
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bekerja di klinik yang melayani peserta asuransi tenaga kerja, membuatku sering mendengar keluh kesah mereka. Tentang tidak adanya uang makan dan transport, jam kerja yang terlalu panjang, juga tidak adanya pesangon untuk karyawan yang pensiun.

Seorang ibu tua, umurnya sudah 54tahun, sering datang dengan keluhan yang sama, nyeri kaki dan pegal -pegal seluruh badan. Pekerjaannya mengangkuti sampah produksi yang beratnya sampai puluhan kilo setiap harinya. Masa kerjanya sudah 20 tahun lebih. "Saya sebenarnya sudah tidak kuat, Bu, tapi perusahaan hanya memberi pesangon 7 jt kalau saya minta pensiun. Lha, saya bekerja sudah lebih 20 tahun masak cuma dikasih segitu. "

Pria gagah, datang dengan keluhan sakit kepala, batuk pilek selama 4 hari dan badan capek-capek. Setelah diperiksa, tekanan darahnya rendah dan flu biasa. "Saya minta surat istirahatnya, nggak kuat saya kalau harus kerja sampai malam. Sebenarnya sampai jam 4 sudah pulang, tapi sudah 2 minggu ini disuruh lembur sampai jam 8 malam, kalau nggak ikut dimarahi."

Suatu hari wanita umur 40-an mengeluh sakit ulu hati, mual dan perut terasa penuh(sebah). Dia mengaku sering telat makan dan jarang sarapan. " Saya nggak sempat sarapan, kerja saya jauh, jam 6 saya harus berangkat naik motor, sampai tempat kerja sudah mepet, harus segera masuk. Sekarang susah, Bu, tidak ada uang transport, tidak ada uang makan. Kalau ada kunjungan, karyawan di suruh bohong, suruh bilang uang makan uang transport ada, kalau nggak mau nanti dikeluarkan. Lha kita masih butuh kerja ya gimana lagi? Coba ada Marsinah yang bisa bela kita."

Siapa yang bisa membela mereka? Karena saya pun hanya bisa mendengarkan keluh kesahnya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun