Kompetisi selalu menarik. Apalagi antara dua jawara dalam sebuah pasar global yang begitu ketat. Lihat saja, betapa kerasnya persaingan antara Coca-Cola vs Pepsi di minuman bersoda. Sama serunya, kompetisi antara Burger King vs McDonald's di makanan cepat saji. Dan yang paling sengit adalah rivalitas di industri pembuat pesawat terbang komersial di dunia. Siapa lagi kalau bukan antara Airbus versus Boeing.Â
Dunia penerbangan memang tidak semata soal "Full-Service Airlines" vs "Low-Cost Carrier". Bukan hanya tentang Emirates, Singapore Airlines dan jajaran perusahaan penerbangan sejenis yang bersaing dengan Southwest Airlines, easyJet, AirAsia dan deretan LCC lainnya.
Sejatinya, dunia penerbangan juga mencatat sejarah persaingan sengit antara dua pabrikan pesawat terbang terbesar di dunia saat ini selama lebih dari dua dekade: Airbus dan Boeing. Airbus mewakili konsorsium beberapa negara Eropa bersaing sengit melawan pabrikan pesawat terbang Boeing dari Amerika Serikat.
Airbus versus Boeing adalah salah satu pertarungan bisnis paling dahsyat di abad ini. Begitu seru dan sarat gengsi. Tidak mengherankan, dalam beberapa kasus, demi memenangkan tender pembelian besar, negara di belakang kedua pabrikan itu ikut terlibat. Lobi politik seakan ikut mewarnai penentuan pembelian Airbus atau Boeing.
Sejarah industri pembuat pesawat terbang komersial awalnya tidak hanya dunia Airbus dan Boeing. Bahkan nama Airbus pun baru muncul di tahun 1970. Dunia aviasi komersial pernah didominasi nama-nama besar seperti McDonnell Douglas, BAe (British Aerospace), Saab AB, Lockheed, Fokker, Convair, dan tentunya Boeing.Â
Sebagian pabrikan ini ada yang telah bangkrut, bergabung dengan yang lain (merger), dan ada juga yang masih bertahan, tapi memilih ceruk pasar berbeda. McDonnell Douglas sendiri telah merger dengan Boeing sejak Agustus 1997.

Sama halnya dengan tiga maskapai penerbangan Indonesia lainnya yang kini tinggal sejarah, yakni Bouraq Indonesia Airlines, Mandala Airlines dan Merpati Nusantara Airlines.
Bouraq pernah memiliki armada buatan Fokker, McDonnell Douglas, hingga Boeing. Sedangkan Mandala pernah mengoperasikan berbagai jenis pesawat, dari buatan Fokker, Vickers Viscount, Boeing, sampai Lockheed L-188 Electra, pesawat jenis baling-baling buatan Lockheed dari AS.
Lain lagi dengan Merpati, perusahaan penerbangan pelat merah ini pernah menerbangi rute-rute perintis dengan pesawat kecil jenis Twin Otter buatan De Havilland Canada. Merpati juga pernah mengangkasa dengan pesawat CN-235, pesawat buatan IPTN Indonesia dan Casa, Spanyol.