Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014 - The First Maestro Kompasiana

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Berharap Rejeki Nomplok

5 Maret 2016   05:51 Diperbarui: 5 Maret 2016   08:19 924
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="jangan pernah berharap rejeki nomplok.karena akan menghancurkan semangat hidup kita/tjiptadinata effendi"]

[/caption]

Jangan Berharap  Akan Rejeki Nomplok

Ibarat mendapatkan durian runtuh, banyak orang yang juga berpikir dan berharap, dalam perjalanan hidupnya akan mendapatkan rejeki nomplok. Mulai berangan angan, andaikata menemukan emas batangan di kebun. Atau mendapatkan  tas berisi uang dalam nilai jutaan dollar atau tiba tiba dilamar miliander entah dari negeri mana. Semakin larut dalam lamunan yang tak beralasan ini, semakin melemahkan daya daya hidup yang ada didalam dirinya.

Jangan lupa, orang tidak hanya bisa tenggelam dalam air, tapi tak kurang berbahayanya adalah tenggelam dalam angan angan yang tak bertepi. Semakin dalam tenggelam, semakin sulit untuk keluar dari jerat yang membelit. Lama kelamaan, semangat hidup menurun dan kemauan untuk berusaha mencapai titik nol.

Tidak sedikit orang yang akhirnya mengambil jalan pintas:

  • kedukun minta agar menangkan lottery
  • tidau di kuburan untuk dapatkan wangsit
  • Melakukan kejahatan
  • Mabuk mabukan
  • Konsumsi obat obatan terlarang
  • Menjadi gila
  • Atau bunuh diri

Batal Dapat Undian, Depresi dan Meninggal

Tetangga kami dulu usaha jualan mie dan minuman. Kedai kecil,anak 4 orang. Bisa dibayangkan hidup yang dijalaninya. Senang beli lottery Singapore yang masuk secara illegal ke Indonesia. Suatu hari Koh Bun, tetangga kami menang lottery Singapore. Hadiah fantastic..1 juta dollar !

Semua yang makan  pada hari itu dikasih gratis. Perabotan rumahnya, siapapun boleh ambil secara cuma-cuma. Tidak sampai setengah hari, seluruh rumahnya kosong, tanpa  meja dan kursi, bahkan kelengkapan masak memasakpun dibagi bagikan karena dengan uang satu juta dollar, Koh Bun sudah tidak lagi mau jualan mie. Mau beli gedung dan buka restoran besar.

Keesokan harinya….

Pagi pagi terdengar tangisan pilu dari kedai yang merangkap rumah Koh Bun. Orang ramai berdatangan dan menengok istri dan anak anaknya berkeliling menangisi Koh Bun, karena tiba tiba pingsan. Ternyata nomor lottery yang diuji, nomornya memang cocok semua, tapi tanggal putarannya tidak sama. Dalam kata lain, lotterynya tidak memenangkan apapun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun