Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014 - The First Maestro Kompasiana

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Hindari Dongeng Menyesatkan

8 Juli 2016   08:30 Diperbarui: 10 Juli 2016   00:01 888
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hindari Dongeng Yang Menyesatkan

Menjadikan dongeng sebagai pengantar tidur bagi anak anak sudah ada sejak tempo doeloe dan berlangsung hingga kini. Agaknya sudah menjadi tradisi yang mendunia.Karena bukan hanya terjadi di Indonesia,tapi juga di negara lain,termasuk di Australia. Tentu saja hal ini ,merupakan sebuah cara yang baik. Disamping merupakan jalan untuk menjaga hubungan anak dengan keluarga,juga sekaligus memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak anak.Karena mendapatkan perhatian  khusus dari  orang tua,maupun anggota keluarga lainnya.

Namun ,saking hanyutnya dalam mendongeng,maka secara tanda sadar, banyak dongeng dongeng bagi anak anak yang jauh dari sifat mendidik.Bahkan secara tanpa sadar telah membentuk jiwa anak anak menjadi pemimpi.,yang dapat merusakan masa depannya.

Beberapa contoh dongeng yang tidak mendidik:
 Disebuah desa terpencil, hiduplah sebuah keluarga yang miskin.Mereka tinggal di gubuk . Untuk menutupi biaya hidup,satu satunya adalah mencari kayu di hutan dan menjualnya sebagai kayu bakar. Suatu hari, karena ayahnya sakit, maka  anak gadisnya  Lisa yang baru berumur 15 tahun,pergi kehutan sendirian.

Sewaktu sedang mengumpulkan kayu kayu, tiba tiba terdengar ada suara derap kaki kaki kuda. Ia terkejut dan ketika membalikkan tubuhnya, dihadapannya tampak seekor kuda yang ditunggangi seorang pria tampan. Pemuda ini tersenyum padanya dan mengatakan bahwa ia terpisah dari rombongannya ketika berburu rusa.

Sang Pemuda turun dari kudanya dan  menyalami Lisa. Ia sangat terkesan menengok kecantikan Lisa. Mengantarkan Lisa pulang dan bertemu dengan ayah bunda Lisa. Ternyata sang pemuda adalah seorang pangeran  kerajaan.

Akhir cerita dongeng tersebut,Lisa dilamar sang Pangeran dan seluruh keluarganya diboyong ke istana. Nah,happy ending bukan?

Tetapi secara tanpa sadar,sesungguhnya sudah menanamkan kedalam jiwa anak anak, bahwa  hidup miskin itu bisa berubah secara seketika, Bayangkan kalau  ada gadis yang meniru Lisa,Pergi ke hutan sendirian,dengan harapan  bisa bertemu “sang pangeran” apa jadinya ? Mungkin diterkam binatang buas atau diterkam oleh manusia, yang tidak jarang lebih buas dari hewan.

Satu contoh lagi:

Mia ,anak  seorang petani miskin, sedang memberi makan ikan ikan di kolamnya dengan dedak ,yang berhasil dikumpulkannya dari bekas beras yang ditumbuk .  Hatinya sedang sangat sedih, karena sudah bertahun tahun hari raya, lewat begitu saja, karena orang tuanya tidak ada uang untuk membelikannya,walau selembar pakaian baru

Tiba tiba ia mendengar suara dari kolam ikan tersebut. “ Mia Mia.janganlah bersedih. Aku akan menolongmu. Aku adalah Peri yang menjelma menjadi ikan. Karena kamu sudah berbaik hati setiap hari memberikan makan kepada ikan ikan yang kelaparan ini,maka aku akan membalas kebaikanmu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun