Dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat
Bertepatan dengan hari jadi Sumatera Barat yang ke-75, yang jatuh pada tanggal 1 Oktober 2020, maka Pemerintah Daerah Sumatera Barat melalui Dinas Kebudyaan Sumatera Barat telah memberikan penghargaan kepada masyarakat, baik yang secara pribadi maupun melalui komunitas masyarakat dinilai telah ikut berperan melestarikan kebudayaan, cagar budaya, kuliner, dan sebagainya.
Selain dari penghargaan bagi  14 individu ,juga telah diberikan penghargaan kepada Komunitas yang dalam ujud paguyuban , telah berperan serta dalam melestarikan kebudayaan ,kepada 2 Komunitas ,yakni :
- Nan Jombang  Dance Company Komunitas Tari KontemporerÂ
- Paguyuban Komunitas  Tionghoa PadangÂ
Paguyuban Komunitas Tionghoa Padang  dinilai secara aktif telah menyelenggarakan kegiatan Budaya  antara lain , Festival 10 Ribu Bakcang dan Lamang Baluo dalam Multikultural Festival tahun lalu.
Penghargaan ini sekaligus membuktikan bahwa keberadaan masyarakat Tionghoa Padang diakui eksistensinya,sebagai bagian dari masyarakat di Sumatera Barat ,yang terdiri dari berbagai etnis,antara lain:
- Orang Minangkabatu
- Orang Jawa
- Orang Batak
- Orang NiasÂ
- Orang Melayu
- Orang Sunda
- Orang TionghoaÂ
Orang Tionghoa Padang,dinilai telah ikut berperan aktif melestarikan kebudayaan, dengan menyelenggarakan festival 10 ribu Bakcang dan Lamang Baluo pada Multikultural Festival,yang telah memecahkan Rekor MURIÂ
Seperti sudah pernah dilangsir oleh kompas.com beberapa waktu yang lalu,yang intinya adalah :
Dua budaya berbeda,yakni budaya Minang dan budaya Tionghoa telah  disatukan dan memecahkan rekor Muri. Ini diharapkan bisa menjadi contoh keberagaman dalam kerukunan. Festival ini menunjukkan adanya kerukunan yang luar biasa antara etnis Tionghoa dengan Minang di Padang.
sumber ; https://regional.kompas.com/read/2019/06/06/14572981/festival-bacang-dan-lamang-baluo-sejarah-tercipta-di-padangÂ
Bacang Melambangkan Budaya Tionghoa dan Lamang Melambangkan Budaya Minang
Etnis Tionghoa Padang ,sejak tempo dulu sudah dikenal, sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka hidup.Salah satu bukti nyata adalah rata rata Etnis Tionghoa Padang, fasih berbahasa Minang ,bahkan hampir sama sekali tidak pernah berbicara dalam bahasa negeri asal mereka. Paling paling hanya bisa mengatakan :" Kamsia" . Hal ini berbeda total dengan saudara sesama etnis Tionghoa yang lahir di Riau dan Sumatera Utara ,yang rata rata masih fasih berbahasa Mandarin atau Hokkien.