Sudahkah Kita Mempersiapkan Mental  Menghadapi Semuanya Ini?
Setiap orang, siapapun adanya, pasti pernah memiliki rasa kebanggaan terhadap dirinya. Bahkan pekerja bangunan yang mungkin dikategorikan sebagai level rendah dalam kehidupan masyarakat, boleh jadi memiliki kebanggaan diricbahwa tanpa dirinya tidak akan ada bangunan yang bisa berdiri.
Ada yang memiliki kebanggaan, semasa menjadi pejabat atau orang penting di komunitasnya daftar ini tentu dapat diperpanjang karena setiap orang memiliki keunikan tersendiri dalam menghadirkan rasa bangga dalam dirinya.
Satu Persatu Kebanggaan Akan Berguguran
Banyak contoh contoh hidup yang dapat dipetik hikmahnya dan dijadikan pelajaran hidup,agar menjadi manusia yang arif dan bijak dalam menjalani hidup ini.Â
Misalnya, ada orang yang dulu kaya dan hilir mudik mengemudikan kendaraan mewah, tapi kelak kita jumpai,naik beca atau berjalan kaki dengan kepala menunduk. Malu menghadapi kenyataan pahit yang dialaminya.
Mantan pejabat, yang dulu sewaktu berkuasa bersifat garang dan arogan karena merasa seakan dunia milik pribadinya, kelak ketika jabatan sudah harus dilepas, berjalan ke mana-mana, sama sekali tidak disapa orang. Bila mental belum siap menghadapi kondisi seperti ini, maka hari hari yang dijalani sungguh akan menuai rasa sedih dan kecewa,karena kehilangan rasa kebanggaan diri.
Post Power Syndrome Bisa Hinggap Pada Siapa Saja
Banyak orang  mengira bahwa post power syndrome hanya terjadi pada para pejabat. Padahal sesungguhnya, setiap orang berpotensi terjerat post power syndrome tanpa disadari.Â
Izinkan saya mengambil contoh pada pengalaman pribadi. Saya bukan pejabat,tapi pernah menjadi orang penting dalam organisasi yang saya pimpin. Mengalami masa masa  keemasan,selama beberapa tahun.Â
Begitu mendarat dan melangkah menuju ke pintu keluar, sudah ada yang menunggu dengan spanduk: "Selamat datang Bapak G.M Tjiptadinata Effendi dan Isteri". Bahkan terkadang dijemput oleh mantan Bupati Kerinci dijamu oleh Walikota Kupang, pada waktu itu alm. SK Lerik. Diundang oleh Sultan Hamengku Buwono ke X, untuk berkunjung ke  Keraton di Yogyakarta. Mendapatkan fasilitas untuk memakai gedung Sekretariat Negara (Setneg), untuk digunakan bagi kegiatan sosial yang saya pimpin atas jasa alm. Kol. Ris Danoe Koesumo.