Bagaimana Rasanya Disambut Cucu Seperti Ini?
Setiap kali ada kesempatan pulang kampung, disamping menemukan hal hal yang menggembirakan, tapi juga mendengarkan curhat yang sungguh sangat menyedihkan hati.
Kabar gembira adalah ketika disambut oleh sahabat sahabat lama, tetangga tempo dulu dan mantan karyawan kami yang menyambut kami tak ubahnya bagaikan sanak keluarga yang sudah lama tidak pernah bertemu. Tidak ada sekat, baik karena perbedaan suku dan agama maupun karena berbeda status sosial.
Diundang dan mengundang makan siang dan makan malam secara maraton,sehingga sambil bercanda Karyawan Rumah Makan Padang yang sudah kami kenal sejak bertahun tahun lalu mengatakan bahwa satu satunya orang yang "mencarter" ruang VIP di lantai atas selama seminggu berturut turut secara pribadi menurut mereka baru kami yang melakukan.
Kejutan dan Terkejut Itu Berbeda
Setelah mendapatkan berbagai kejutan, seperti misalnya kami yang mengundang tapi ternyata sudah dilunasi oleh salah seorang mantan murid atau keponakan kami. Belum lagi berbagai bingkisan dan angpau dalam nilai nominal yang lumayan besarnya.
Kehadiran dari sahabat, tetangga dan mantan murid murid, serta sanak keluarga yang disertai berbagai kejutan tentu saja semakin menyemarakkan hari hari kami selama berada di Jakarta. Tentu saja bukan nilai materi yang menjadi ukurannya, melainkan rasa kebersamaan yang tidak meluntur di gerogoti waktu .
Tapi ketika saatnya kami pulang kampung ke kota Padang tercinta, disamping merupakan kebahagiaan tersendiri bisa menghirup udara kampung halaman dan bertemu dengan orang orang yang kami rindukan, ternyata kami dikejutkan oleh beberapa hal. Antara lain sudah banyak sahabat dan tetangga kami semasa dulu yang sudah tiada. Bahkan di antara mantan murid saya sudah ada beberapa orang yang meninggal.
Terenyuh Mendengar Curhat Sahabat Lama
Salah seorang dari tetangga lama, yang dulu adalah pengusaha cukup sukses di Pekanbaru ternyata sudah lama pulang kampung di Padang. Tuhan mempertemukan kami di pondok. ketika pak Suardi (bukan nama sebenarnya) sedang berjalan kaki di pondok. Saya hampir tidak lagi mengenal wajahnya yang tampak jauh lebih tua dibanding usia sesungguhnya yang terpaut sekitar 10 tahun lebih muda dibawah usia kami.
Ketika saya ajak minum kopi di salah satu kedai kopi di sana, saya lebih banyak bertindak sebagai pendengar yang baik. Ternyata Suardi sudah lama tidak lagi berusaha karena seluruh modal usaha sudah dipakai untuk menyekolahkan putranya ke Jakarta hingga selesai. Dan kemudian dengan suara liri ,bercerita bahwa kini untuk mengunjungi keluarga putranya ia tidak lagi berani