Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014 - The First Maestro Kompasiana

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ternyata Menjadi Orang yang Tahu Bersyukur, Tidak Mudah!

7 Maret 2019   08:28 Diperbarui: 7 Maret 2019   08:45 239
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
foto di Burns Beach,200 meter dari kediaman kami/dokumentasi pribadi

"Alangkah bahagia Opa dan Oma ,selalu berduaan  kemana saja pergi .Apalagi dikelilingi anak cucu yang menyayangi "Komentar salah seorang teman di facebook, memberikan tanggapannya atas foto saya dan istri sedang makan malam bersama anak mantu dan cucu cucu. 

Komentar yang sangat biasa saja,namun cukup membuat saya berpikir "Apakah benar saya  berbahagia?" Dan secara tanpa sadar terjadi self talk dalam diri sendiri untuk beberapa saat. 

Kami disediakan rumah tinggal yang berada di dekat pantai wisata. Dikasih  mobil Krugger ,dibayarin pajaknya setiap tahun. Setiap bulan,tanpa harus berkerja,rekening saya dan istri, terus bertambah dari anak anak kami. Mau apa lagi kalau bukannya bersyukur dan berbahagia? 

Makanya,setiap bangun pagi, satu kata yang terucap dari lubuk hati yang terdalam adalah "Terima kasih Tuhan. " Terima kasih kami masih hidup dan diberikan kesehatan yang prima dan dikelilingi oleh  anak cucu yang menyayangi kami. Alangkah berbahagianya kami berdua,dapat menikmati hidup secara luar biasa.

 Setiap hari ,saya mengemudikan kendaraan hadiah dari putra kami dan tentu didampingi istri tercinta. Mengelilingi pantai indah  dan apik di seputar kediaman kami di Burns Beach, menghirup udara segar dan memandangi alam yang teramat indah hasil dari mahakarya Sang Mahapencipta.

Tapi, tiba tiba saya ingat sahabat baik kami ,kemarin masuk IGD, karena mengalami stroke, padahal usianya 20 tahun lebih muda dibanding kami. Kalau diibaratkan kebahagiaan seperti nyala api,tiba tiba nyala api itu meredup ,bagaikan tersiram air.

 Saya berbahagia, tapi sekaligus sedih.memikirkan sahabat kami yang masih harus berjuang di Instalasi Gawat Darurat. Ingat akan cucu kami yang ada di Jakarta, di Jepang dan di Sydney.

 Ingat bahwa tidak mudah bagi kami berdua untuk dapat berkumpul dengan anak cucu,seperti sewaktu kami masih di Indonesia.. Wajah yang tadinya berseri seri,entah kenapa mulai meredup 

Benarkah Tidak Ada Kebahagiaan Sempurna ataukah Saya Yang Kurang Tahu Bersyukur?

Kalau dalam kisah dongeng, sering kita baca kalimat yang sangat indah yakni "Pasangan ini hidup dengan saling mencintai dan mereka hidup berbahagia selama lamanya "Syarat bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah "Love and be loved" mencintai dan dicintai,sudah kami miliki berdua. 

Saya yakin pada diri saya,bahwa satu satunya wanita yang saya cintai dunia akhirat adalah istri saya.Begitu juga saya yakin pada istri saya, seprti yang disampaikannya kepada saya, bahwa satu satunya laki laki yang dicintai sepenuh hati adalah diri saja. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun