Secara beruntun ,telah terjadi tragedi kemanusiaan,yang telah menewaskan Polisi di Mako Brimob ,yang disusul dengan bom bunuh diri di 3 Gereja Surabaya. Menyebabkan belasan orang yang sedang beribadah tewas mengenaskan ,sedangkan puluhan lainnya,masih dirawat diberbagai Rumah Sakit di Surabaya,akibat dari tindakan biadab para teroris.
Spontan berbagau  reaksi ,yang berupa komentar di berbagai media sosial ,yang umumnya  mengutuk tindakan sadis yang tidak berprikemanusiaan dari para teroris ,yang telah mengakibatkan tewasnya banyak orang dan sekaligus mencoreng nama Indonesia dimata dunia.Â
Dan reaksi ini ,tidak hanya sebatas di dunia maya,tapi juga diterapkan dibidang kehidupan yang sesungguhnya,yakni  menolak memberi izin pemakaman mayat teroris.
Diawali Dengan Penolakan Terhadap Mayat Teroris Abu Ibrahim di Kampung Halamannya di Sumatera Barat
Mayat teroris Abu Ibrahim alias Beny ditolak saat akan dimakamkan di kampung halamannya di Sumatera Barat (Sumbar). Walhasil teroris yang tewas di Mako Brimob Kelapa Dua itu dibawa ke Riau. Kampung halaman teroris ini berada di Nagari Malai Limo Suku Timur, Batang Gasan, Padang Pariaman, Sumbar.
Mayat Abu Ibramhim akhirnya diboyong ke Desa Pandau Jaya, Siak Hulu, Kampar, Riau pada Minggu (13/5/2018)."Memang warga sempat yang menolak juga. Tapi kita berikan pengertian dan akhirnya menerima jenazahnya yang memang selama ini warga di sini, orang tuanya juga di sini, adik-adiknya semua di sini. Beny (Abu Ibrahim) besarnya juga di sini," kata Firdaus Kepala Desa Pandau Jaya,seperti ditulis oleh news.detik.com
Selain Ditolak di Surabaya, Jenazah Teroris Juga Ditolak di Banyuwangi
Seperti diberitakan sebelumnya, warga Makam Tembok Surabaya menolak pemakaman keluarga teroris. Sejumlah warga setempat pada intinya tidak ingin pelaku teroris bom pengantin tersebut dimakamkam di tempat tersebut.Fauzi (55) salah satu warga Jalan Makam Tembok Gede menuturkan, meski orang tua pelaku teroris pernah tinggal di daerah Jalan Kranggan Surabaya, warga tetap menolak pelaku dimakamkan di Makam Tembok Gede Surabaya.
"Kami tetap menolak sebab, pelaku sudah meresahkan masyarakat Surabaya dan sekitarnya terkait peledakkan bom di tiga gereja," tuturnya, Senin (14/05/2018).
Pihak keluarga di Banyuwangi belum mau menerima jenazah pelaku bom gereja di Surabaya.
Meskipun, secara hubungan mereka masih saudara sekandung. Puji Kuswati, salah seorang pelaku merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan H Kusni dan Minarti Infiah. Sementara, pelaku lain adalah menantu dan empat cucunya."Kami belum mau, sementara ini belum mau menerima jenazah enam pelaku bom itu. Soal itu tentunya masih perlu musyawarah dengan pihak keluarga," jelas Rusiyono salah seorang anggota keluarga H Kusni, Senin (14/5/2018).(Banyuwangi (beritajatim.com)Â