Niat awal memang sangat mulia, yakni meninggalkan keluarga dan kampung halaman selama bertahun tahun ,untuk merantau ke negeri orang.
Tujuannya adalah bekerja keras dan mengumpulkan uang untuk mengubah nasib sekeluarga. Tapi pada kenyataannya, tidak terhitung kalinya kita membaca berita yang menyedihkan.
Antara lain, istri jadi TKW di negeri orang untuk mengumpulkan uang ,demi membangun rumah. Tapi ternyata selama masih berada dirantau orang, suami sudah menikah lagi dengan orang lain.Â
Atau sebaliknya,suami kerja di kapal dengan masa kontrak kerja selama 3 tahun. Setiap bulan mengirimkan uang hasil kerja kerasnya berlayar disamudra,demi untuk membangun keluarga. Tapi ternyata ,sementara masih berlayar,istri sudah tinggal bersama laki laki lain.Â
Rasanya tidak perlu berselancar di google,karena sudah sangat sering kita baca dan dengarkan dari berbagai media sosial.
Tapi Ternyata  Kondisi Seperti Ini  Seakan Tetap Dilestarikan
Sayangnya,orang tidak mau belajar dari kegagalan hidup berumah tangga orang lain. Mungkin menganggap hal tersebut adalah takdir setiap orang. Sehingga "tradisi" merantau meninggalkan pasangan hidup ini, tetap berlanjut,seakan dilesatarikan.Â
Kentara benar,bahwa uang menempati prioritas diurutan paling atas dalam kehidupan sebagian orang. Pokoknya demi uang,ikhlas mempertaruhkan apa saja,termasuk keutuhan rumah tangga.
Tentu saja hal ini adalah hak preogatif setiap insan, yang tidak boleh diintervensi oleh siapapun. Sebagai out sider atau orang luar,kita hanya dapat mengingatkan, betapa rawannya, bila pasangan hidup ditinggal selama bertahun tahun. Karena godaan bisa datang kepada siapa saja. Tidak memiolh apakah pria atau wanita,masih muda atau sudah lebih dari dewasa.
Salah Satu Contoh yang Terjadi Awal Tahun 2018
Perjuangan Amel, wanita asal Kecamatan Pagak, untuk membahagiakan keluarga ternyata malah berakhir dramatis. Ia telah dicurangi oleh Ronald, suaminya sendiri.