Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014 - The First Maestro Kompasiana

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Terbangun Setelah Tertidur Selama Satu Abad

15 April 2016   13:04 Diperbarui: 15 April 2016   13:44 835
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tiba Tiba Dewi Sudah Berada di Istana

Entah apa yang sudah terjadi, tiba tiba Dewi sudah berada disebuah istana yang megah dan amat indah. Dan pada saat ini ,didapatinya tubuhnya berada di tempat tidur yang sangat empuk. Saking besarnya kebahagiaan yang merasuk kedalam dirinya, maka Dewi menghempaskan tubuhnya berkali kali di kasur yang belum pernah dinikmatinya sejak dilahirkan di dunia.

Didepan tempat tidurnya ada cermin besar . Disana ia menengok tubuhnya sudah berbalut pakian sangat indah, mengalahkan pakaian Cinderrella ,seperti yang pernah disaksikannya lewat TV di kantor kelurahan.  Disamping cermin besar, ada meja tempat berias dan disebelahnya ada sepiring penuh buah buahan ,yang belum pernah ditengoknya seumur hidup.

Lengkaplah sudah kebahagiaan yang dirasakannya. Hidup mewah, tidak perlu lagi mencuci pakaian disungai dan menanak nasi dan membakar ikan asin. Kini,semua yang diperlukannya sudah tersedia.

Namun anehnya tak satu orangpun ada di istana yang begitu besar. Tapi mabuk oleh kebahagiaan, menjadi orang kaya mendadak, maka Dewi mana mau merusakkan kegembiraan hatinya dengan memikirkan hal tersebut. Yang penting impiannya menjadi orang kaya sudah terwujud!

 Dihinggapi Kerinduan Untuk Pulang

Menurut perasaan Dewi ,baru satu minggu ia berada diistana ini.Entah mengapa ,tiba tiba  rasa rindu akan rumah dan desanya menyesak dalam dadanya.  Luapan kebahagiaan yang sudah dinikmatinya selama satu minggu, seakan sirna ,bagaikan awan tertiup angin….Kini satu satunya keinginannya adalah pulang !

Namun Dewi tidak tahu jalan untuk pulang, Bahkan ia tidak tahu ,kini sedang berada dinegeri apa? Semakin dipikirkannya ,semakin sedihlah hatinya ,Kesedihannya kini,malah jauh lebih dalam bila dibandingkan dengan kesedihannya sewaktu masih hidup di kampung.

Tiba tiba dihadapannya berdiri seorang  tua  dan dengan tersenyum menyapa:” Mengapa menangis anakku? Bukankah ini hidup seperti ini yang kau impikan selama ini?”

“Kakek, mohon bawalah Dewi kembali ke rumah,Dewi sudah tidak tahan lagi hidup disini”

“Baiklah Dewi,pejamkanlah matamu  .Aku akan mengantarkanmu pulang ke kampong halamanmu”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun