Rindu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai keinginan kuat untuk bertemu dengan seseorang. Rindu merupakan rasa yang kerap diasosiasikan dengan cinta.
Sebelum membahas rindu, perlu diketahui bahwa cinta sendiri beragam bentuknya. Maka, tentu rindu pun berbeda-beda gejala yang kita rasakan pada satu sosok dengan sosok lainnya mengikuti bentuk cinta manakah yang kita miliki pada sosok tersebut.
Mengutip dari Social Neuroscience of Love (2012) oleh Cacioppo, dkk., cinta secara garis besar digolongkan menjadi dua yakni passionate love (cinta dirasakan oleh pasangan dan memiliki intensi untuk menjalin hubungan secara emosional dan seksual) serta other types of love (bentuk cinta yang lain, selain tipikal satu).
Bentuk cinta selain passionate love di antaranya yang pertama adalah companionate love yaitu ketenangan, kenyamanan sosial, persatuan emosional, dan keamanan dirasakan pada seseorang yang membersamai kita dalam waktu lama.
Kedua, unconditional love, contohnya perasaan kasih yang timbul ketika melihat gambar seseorang dengan disabilitas intelektual (berdasarkan eksperimen Beauregard, dkk. pada 2009).
Yang ketiga ialah maternal love, yaitu kasih sayang seperti yang dirasakan oleh seorang ibu terhadap anaknya.
Berikut adalah gambar bagian otak manusia yang mengalami gejala ketika merasakan cinta. Bagian berwarna oranye tua merupakan yang bergejala ketika seseorang mengalami passionate love, sedangkan bagian berwarna oranye muda merupakan bagian yang bergejala ketika seseorang mengalami bentuk-bentuk cinta selain passionate love.
Aktivasi dari daerah kaya dopaminergik subkortikal selama mengalami passionate love ini sejalan dengan studi chological yang mendefinisikan cinta sebagai penghargaan, pengalaman positif, dan motivasi.Â
Sebagian besar wilayah ini adalah wilayah yang aktif ketika orang-orang berada di bawah pengaruh obat-obatan yang memicu euforia seperti opiat atau kokain.