Di tahun bersamaan, ia dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai salah satu anggota kabinetnya. Yakni selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Kendati kebijakan yang dibuat Anies dinilai positif, namun ia tetap dicopot dari jabatannya dan diganti oleh Muhadjir Effendy. Pencopotan jabatan Anies dilakukan pada pertengahan tahun 2016.
Selanjutnya ia diusung sebagai peserta pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) DKI Jakarta di tahun 2017. Ia dipasangkan dengan Sandiaga Uno dan didukung penuh oleh Partai Gerindra.
Meski persaingan sengit, keduanya berhasil mengalahkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Syaiful Hadi pada pilkada putaran kedua. Anies memperoleh suara sebesar 57,96 persen sedangkan Ahok-Djarot memperoleh 42,04 persen.
Selepas pilkada DKI Jakarta, Anies pun sempat menjajal peruntungan di Pilpres 2024. Ia dipasangkan dengan Muhaimin Iskandar atau akrab disapa Cak Imin.
Namun Anies dan pasangan lainnya, Ganjar Pranowo - Mahfud MD kalah dari pasangan Prabowo-Gibran. Dimana pasangan Prabowo-Gibran berhasil menang dalam sekali putaran saja.
Keinginan Anies untuk maju tampaknya tak ada habisnya. Kali ini dia kembali menjajal peruntungannya dalam pilkada DKI Jakarta 2024.
Semula nama Anies diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dimana PKS memasangkan Anies dengan kadernya, Mohamad Sohibul Iman.
Keduanya dipasangkan karena dipandang sebagai bakal calon gubernur dengan kualifikasi yang mumpuni, serasi dan bisa saling melengkapi. Kabar itu terbit sekitar akhir bulan Juni lalu.
Sebulan berselang, ternyata Anies berpindah keyakinan. Dia tak lagi diusung oleh PKS melainkan berpindah ke Partai NasDem.
Tak cuma NasDem dan PKS, Anies pun sempat diusung oleh PKB. Bahkan Anies disebut-sebut sebagai calon tunggal.