Kompas.com (23/9/2019) memberitakan Gibran mendaftarkan diri sebagai anggota PDIP di Kantor DPC PDIP Surakarta. Pendaftaran tersebut tampaknya berkaitan dengan kebijakan PDIP yang memprioritaskan kader dalam pencalonan kepada daerah.
"Dan tadi sudah saya tanyakan masalah formulir pencalonan dan sudah diberi arahan harus ke Pak Putut," kata Gibran.
Putut adalah Ketua Tim Seleksi dan Rekrutmen Bakalan Wali Kota dan Wakil Wali Kota PDI-P.
Di saat bersamaan, di Solo bermunculan spanduk dukungan terhadap pencalonan Gibran sebagai Wali Kota Surakarta. Gibran mengaku tak tahu-menahu tentang spanduk-spanduk itu dan menilai belum tepat saatnya mengampanyekan diri lewat spanduk.
Gibran tentu punya alasan sendiri untuk banting setir ke dunia politik dan mencalonkan diri sebagai Wali Kota Surakarta.
"Solo ini butuh sedikit sentuhan anak muda," katanya (Kompas.com, 22/9/2019).
Mungkin untuk menunjukkan keseriusan, ia nyatakan akan menyerahkan semua bisnis kepada adiknya, Kaesang. Langkah ini meniru langkah Jokowi yang tidak mengurusi bisnis saat terlibat politik praktis.
"Ya kalau yang namanya bisnis kan bisa dijalankan orang lain. Sekarang kan Kaesang sudah lulus, sudah bisa saya delegasikan ke Kaesang. Minggu depan dia lulus." (CNBCIndonesia.com, 6/10/2019).
Gibran Rakabuming mungkin punya bakat menjadi politis hebat. Boleh jadi jika benar-benar maju dalam pilkadal Surakarta nanti, ia menang. Tetapi saya khawatir, rakyat Surakarta memilih Gibran bukan karena melihat kapastas pribadi Gibran dalam memimpin pemerintahan, merancang dan mengeksekusi kebijakan publik, melainkan karena faktor dirinya sebagai putra presiden.
Jika seperti itu yang terjadi, Jokowi --terlepas dari pengakuannya tidak cawe-cawe keputusan anak-- tidak akan berbeda dari sejumlah presiden yang sudah-sudah. Jadinya Jokowi gagal dikenang sebagai tokoh politik yang meninggalkan legacy anti-politik dinasti.
Padahal, pemimpin politik itu dikenal pertama-tama dari kebijakan-kebijakannya. Kedua dari tindak-tanduk putra-putrinya. Saya kira, inilah yang membuat Gus Dur menjadi presiden yang paling dicintai, selain Soekarno.