(benar salah poster ini aku tak peduli)
Naga-naganya saya harus ikut berbicara. Naga-naganya pula lebih pas jika disebut “saya harus marah”. Saya memang awam dengan persepakbolaan negeri ini, tetapi saya faham rasa jika PSSI atau jagoan saya pribadi kalah dipecundangi. Ketika Indonesia kalah dengan Malaysia, saya termasuk yang menangis dan nelangsa. Lha kok sekarang dibekukan dengan apapun latar belakangnya.
PSSI, di mana kamu kini?
Saya punya murid, sebut saja Aji. Seminggu hanya punya waktu luang dua hari di sore hari. Sisanya full untuk berlatih di klub sepakbola, di desa saya. Asal tahu saja, si Aji ini juga lumayan bermain drumnya. Jadilah saya sebagai pelatih musik sekolah harus mengalah mengikuti jadwal longgarnya.
Sempat iri, karena berkali-kali absen dari ekstra band-nya, gegara letih usai berlatih bola. Saya tidak bisa marah, karena ketika ditanya mengapa alpa? Cukup meyakinkan alasan yang dia ceritakan. “Pak, saya harus serius berlatih, karena ini lagi ada kompetisi. Jika menang, saya dan klub saya bisa dibawa ke Singapura”. Itu alasan ia yang meluluhkan kekesalan saya setiap kali dia ijin tidak latihan band.
Berhamburan do’a, semoga apa yang diucapkan siswa saya itu bisa terwujud dan menjadi cita yang nyata. Tetapi, kini, saya yang awam PSSI, merasa ikut tersakiti atas pembekuan ini. Bingung saya, siapa yang membuat saya sakit. Bingung pula saya, mengapa harus sakit.
Saya tidak tahu, apa yang akan terjadi di Aji, siswa saya ini. Masihkah ia bisa meyakinkan saya dengan segagah yang pernah di ucapkan itu, kini? Padahal, ketika siswa saya ini menyampaikan semangatnya berlatih untuk bisa meraih prestasi, bibir tidak henti-hentinya mengamini, kebanggaan rasa menyeruah di sekujur tubuh.
Saya juga tidak perlu tahu, ada apa dengan PSSI. Disamping saya awam, saya bukan komentator pun pula bukan provokator.
Yang saya tahu, jika sampai si Aji, siswa saya, luntur kepercayaan diri, maka kemarahan saya pada PSSI akan lebih dari sekadar tulisan ini!
Beku membekukan adalah wujud dari hasil suatu kejahatan pola! Siapa dan mengapa, itu terlalu sumir untuk dicari. Tetapi tolong, hai (siapa ya) warnai PSSI dengan hati, bukan hanya dengan kalkulasi-kalkulasi. Mengapa? Yah, bagaimana nasib dia, si Aji, siswa saya ini, nanti.
Kertonegoro, 18 April 2015
Salam,