Akhmad Fauzi*
Sudah diketahui bersama pergerakan kehidupan berbangsa memanas selama dua tahun terakhir. Analisis pengamat mengerucut pada kewajaran karena konsekwensi logis dari hiruk-pikuknya perhelatan suksesi kepemimpinan bangsa. Menyimak dari perhelatan itu memberikan keyakinkan bagi semua elemen bangsa jika gerbong demokrasi negeri sedang bergerak menyesuaikan diri. Kepengapan ruang kreasi dicoba untuk lebih dilebarkan lagi agar ruang publik terasa leluasa menikmati hidup merdeka di negeri demokrasi Pancasila ini.
Apa lacur, melesatnya gairah ingin bebas tidak terlalu pararel dengan situasi dan konsep pikir masyarakatnya. Jabaran “bebas” menjadi pembenar untuk menafsirkan polarisasi sikap dan kepentingan yang ada. Jadilah warna langit bangsa memerah karena saling balas pembenaran. Demokrasi yang seharusnya ditatap sebagai kumpulan nilai-nilai, acapkali berbias seluas target dan kesempatan yang ingin diraih. Budaya mentaati yang legal, sekarang tergantung siapa yang melegalkan. Negara mengalami krisis kepercayaan akan produk-produk kenegaraan yang sah dan prosedural.
Ironisnya, wacana kebingaran ini sebegitu mudahnya diakses oleh semua pihak, tak terkecuali siswa dan kelompok masyarakat yang sedang membangun karakter hidupnya. Mudahnya menyimak kolong situasi bangsa ini memberikan peluang besar terjadinya gesekan untuk mewarnai pola pikir dan konsep hidup yang menyimak. Idealnya memang konstelasi ini bergerak di nuansa masyarakat yang madani, masyarakat yang memiliki kekuatan sikap dalam membaca situasi. Namun di sayangkan, ekses dari memanasnya perhelatan ini ternyata malah menghasilakan gambaran “ketidakdewasaan” masyarakat (juga elite) dalam bersikap.
Kegetiran juga bagi yang berharap kelangsungan negeri ini bergerak dengan keteduhan rasa. Semakin getir jika sikap tidak dewasa yang terlihat ini menjadi acuan bagi generasi bangsa. Mudahnya memfitnah, tidak merasa berdosa menghakimi oknum dan tokoh, penghujatan karakter, sampai pada membenarkan yang salah semakin mudah dibaca dan ditiru oleh mereka-mereka yang labil dan gersang menatap keteladanan. Berangkat dari situasi inilah, tidak ada salahnya jika ada yang bergerak untuk mengkuliti ini agar menjadi menu yang berhikmah bagi mereka, generasi penerus bangsa, siswa dan anak didik negeri.
Bukanlah sebuah ilusi jika harus dikatakan prospek masa depan negeri ini cerah. Setidaknya (image itu) bisa membangun keyakinan kita jika masa depan cerah adalah bagian kebaikan yang memungkinkan tumbuhnya optimisme bangsa. Keteledoran penanaman nilai-nilai ketika reformasi terjadi, bisa menjadi penyemangat diri untuk berkirah lebih nyata menyuarakan nilai-nilai yang teledor dibaca itu.
Negeri ini telah berubah, banyak variabel yang menjadi sebab berubahnya. Menggunungnya keterkungkungan, inginnya perbaikan, meningginya kebutuhan sampai pada lepasnya batas akses informasi telah melahirkan idea-idea visi hidup beberapa langkah dari sebelumnya. Monotonnya mindset birokrasi, yang diimbangi masih kurang kuatnya sistem menjadi lahan subur potensi kontradiksi dalam pelaksanaannya. Untunglah, negara masih terwacanakan punya wibawa, sementara masyarakat terlihat halus dalam membaca derap langkah ini.
Di masyarakt yang telah dewasa, bukan riuh dan euphoria ukurannya, tetapi dinamis dan kritis ketika membaca fenomena. Hal ini kurang sempurna terjadi di dua tahun ini. Konstelasi yang tidak sempurna ini malah terindikasi berlanjut sampai sekarang. Bisa dibayangkan apa jadinya jika ketidakdewasaan ini dibaca oleh mereka-meraka yang hendak merangkak dewasa?
Mengkuliti sebab tidak dewasa itu hanya menjadi polemik yang berkepanjangan, memangkas hawa ketidakdewasaan untuk langkah ke depan itulah solusi yang lebih memungkinkan. Ada yang pernah meminta untuk diadakan islah bangsa, tetapi permintaan baik itu senyap tanpa ada kelanjutan. Telah diupayakan gaya kesantunan dan penumbuhan optimisme akan kebesaran bangsa. Nyatanya masih juga kalah dengan letupan-letupan nakal yang nilai “membelahnya” lebih kental terasa.
Setidaknya ada tiga hal yang perlu disuarakan ke siswa (juga mereka-mereka yang masih polos dalam menatap masa depan), yaitu :
1.Menjaga Wibawa Tokoh
Sudah tak terhitung lagi berapa tokoh yang sempoyongan nama dan kiprahnya selama dua tahun terakhir ini. Menelisik suara dan kegaduhan yang ada di media (apalagi di media sosial), pesimis sekali negeri ini akan melahirkan kepemimpinan bangsa. Menu informasi setiap hari adalah penghujatan dan sindiran-sindiran. Yang lebih menyedihkan lagi, penghujatan dan sindiran itu merambah pada penyinggungan simbol-simbol, baik simbol negara maupun simbol agama. Gempitanya ruang bebas yang diberikan pemerintah menjadi bebas sebebas-bebasnya. Nilai inikah yang akah diwariskan untuk anak didik kita?
Tega sekali jika hal ini dibiarkan membumi di bumi Pertiwi. Nilai kesantunan, mulai dari pilihan kata sampai etika membuka aib seseorang tidak lagi menjadi ketinggian opini dan penyampaian aspirasi. Yang tampak justru kepongahan, kelegaan, dan kepuasaan. Apalagi ketika sang tokoh tersasar tidak dalam wilayah perjuangannya.
Keberingasan siswa sudah bisa penulis rasakan akhir-akhir ini. Kepatuhan melihat sosok yang lebih tua apalagi yang seharusnya dijaga wibawanya banyak tergerus dalam gelagat keseharian mereka. Contoh yang sederhana adalah keterlibatan mereka setiap kali ada arak-arakan mengusung calon kepala desa. Bias “melaknat” yang tidak sepilihan terucap dengan lantang penuh gembira. Jalanan tidak lagi memiliki wibawa sebagai milik umum. Dan, mereka menjual etika demi keberpihakan pada calonnya!
2.Kemana Bangsa Yang Beretika Itu?
Penulis pernah menyimak ulasan pengamat politik yang miris dengan pergerakan psikologi bangsa akhir-akhir ini. Ketika beliau membanding suasana etika di negeri seberang, ternyata kita terlalu lepas kendali!Koridor yang menjadi sebab berbatasnya etika itu tidak lagi menjadi bagian yang penting untuk membangun kekuatan citra diri. Ada yang berpendapat jika hal ini bisa dibenarkan selama ada fakta. Dijelaskan pula bahwa masyarakat butuh info yang tidak loyo dan datar saja. Benarkah?
Beberapa tulisan penulis dalam menyikapi ini selalu tegas dikatakan “fakta adalah kuncinya”, tetapi mengambil hikmah atas fakta itu adalah ketinggian etika. Jika toh selama bertahun-tahun cerita negeri selalu dihiasi polesan fakta agar kabur fakta yang sebenarnya, dan kalau memang ingin merevolusi fosil kebiasaan ini, setidaknya hal itu tidak boleh menghilangkan nilai kebermanfaatan atas hikmah fakta itu. Siswa membaca hal ini!
Bagi yang bergerak di dunia pendidikan akan merasakan lelahnya meluruskan gestur, mimik, dan polah siswa didik agar lebih santun dalam menyampaikan aspirasinya. Yang sering dilakukan siswa adalah pemakaian kosa kata yang kurang santun dengan gestur tubuh yang menantang. Inspirasi agar apa yang disampaikan bisa mengena (mungkin) tidak lagi dikenal mereka.
3.Sembuhkan Luka Lama
Bisa dimengerti jika setiap fase perjalanan negeri ini melahirkan kegetiran-kegetiran. Masih teringat bagaimana bung Karno dengan ringannya berucap jika setiap hentakan adalah biasa, lumrah. Hentakan yang selalu mengubur impian di satu bagian dan membuka kesempatan di bagian lain. Hentakan yang menjadi kejadian umum di jagad ini. Sayang, luka yang terjadi tidak mau untuk segera disembuhkan.
Bagi kehidupan berpikir siswa, poin ini tidak terlalu terlihat kecuali bagi siswa yang super nalar dan gemar membaca. Menjadi kekhawatiran saja jika mereka ternyata bisa mencerna ada apa dan mengapa si A harus berkata seperti itu?Semakin menjadi khawatir jika tahu mereka itu menjadi bibit luka baru. Lantas, kapan sembuhnya luka negeri ini?
Patut menjadi renungan kita bersama, di tengah ruang bebas ini telah terambah liarnya wacana dan paradigma. Ada yang perlu diselamatkan putihnya nalar dan pola pikir, mereka, siswa kita. Bagi kita yang kaum uzdur, estafet berkuasa tidak akan lagi terlalu lalu tergenggam. Jahatnya kita jika tongkat itu harus kita serahkan tetap seperti sediakala, masih ada bercak darah.
Dunia tidak lagi kompromi dengan perkembangan, kejeliaan mensiasati perkembangan itu sangat diperlukan untuk bisa eksis berpijak di bumi ini. Padahal, eksistensi itu dibangun harus dengan kekokohan jiwa dan dan kesiapan pikir. Apa jadinya anak-anak kita jika harus diwarisi sesuatu yang rendah nilai?
Kemana anak - anak kita itu
Anak - anak yang dilahirkan oleh seluruh bangsa ini
dengan keringat, luka, darah dan kematian
Anak - anak yang dilahirkan oleh sejarah
dengan air mata tiga setengah abad
Kemana anak - anak itu
Siapa yang menyembunyikan mereka
Siapa yang menculik mereka
Siapa yang meracuni dan membuang mereka
Anak - anak yang bernama kemerdekaan
Anak - anak yang bernama hak makhlukdan harkat kemanusiaan
Anak - anak yang bernama cinta kasih sesama
Anak - anak yang bernama indahnya kesejahteraan
Anak - anak yang bernama keterbukaan dan kelapangan
Anak - anak itu tunggang langgang
Anak - anak itu diserbu oleh rasa takut yang mencekam
Anak - anak itu bertiarap ke bawah semak - semak zaman
Anak - anak itu ngumpet dibalik kegelapan
Kematian bukanlah tragedi
kecuali jika kita curi dari Tuhanhak untuk menentukannya
Nyawa badan
Nyawa rohani
Nyawa kesadaran
Nyawa hak untuk tenteram
Nyawa kewajiban untuk berbagi kesejahteraan
Nyawa amanat untuk merawat keadilan
Dihembuskan oleh Tuhan
dielus - elus dan Ia sayang – sayang
Bahkan nyawa setiap ekor coro
Bahkan nyawa cacing yang menggeliat – geliat
Ia jaga dalam tata kosmos keseimbangan-Nya
Tuhan sangat bersungguh - sungguh dalam mengurusi
setiap tetes embun yang Ia tampung di sehelai daun
Tuhan menyayangi dengan separuh hati-Nya
setiap titik debu yang menempati persemayaman-Nya
Tapi kita iseng
Kita tidak serius terhadap nilai
Terhadap Allah pun kita bersikap setengah hati
(dari EmHa Ainun Nadjib – puisi “Kemana Anak-Anak Kita”)
Kertonegoro, 1 Desember 2014
*Penulis pemilik blog bermututigaputri
di : http://bermututigaputri.guru-indonesia.net/profil.html
Ilustrasi : kresnabayutour.com
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI