Mohon tunggu...
AKHMAD FAUZI
AKHMAD FAUZI Mohon Tunggu... Guru - Ada yang sedikit membanggakan saya sebagai "anak pelosok", yaitu ketiga bersama pak JK (Jusuf Kalla) menerbitkan buku keroyokan dengan judul "36 Kompasianer Merajut Indonesia". Saya bersama istri dan ketiga putri saya, memasuki akhir usia 40an ini kian kuat semangatnya untuk berbagi atas wawasan dan kebaikan. Tentu, fokus berbagi saya lebih besar porsinya untuk siswa. Dalam idealisme saya sebagai guru, saya memimpikan kemerdekaan guru yang sebenarnya, baik guru sebagai profesi, guru sebagai aparatur negara, guru sebagai makhluk sosial.

-----Ingin tahu, agar tahu kalau masih belum tahu----- KLIK : 1. bermututigaputri.guru-indonesia.net 2. www.titik0km.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pecah Kongsi, Berakibat Gagal Berhijrah 

15 Oktober 2015   08:16 Diperbarui: 15 Oktober 2015   08:16 67
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 

 


(Serial Muharram filsafat menguak)

Pecah Kongsi, isyarat jelas jika ada yang salah pada awal-awalnya. Seberapa sistemiknya sebuah gerakan jika konsep dasarnya hanya sebatas "pusar", rentan sekali dengan bibit-bibit pembusukan.

Konsep dasar yang salah tidak akan pernah ditemukan kekuatan di dalam internal pergerakan itu sendiri. Gersang idealisme, minim bahasa langit, hilang keteduhan, menjauh dari hikmah, menutup nyanyian kebaikan dari luar.

Euphoria awal memang bisa menggegerkan bumi, itu karena energi beringas yang yang sedang gila-gilanya berbulan madu. Pusar ke bawah itu hanyalah konsumen, penikmat, peminta, enaknya sendiri. Enggan untuk mengamati, menelaah, apalagi mengambil hikmah. Maka sering kali menyebabkan suasana geli. Ironisnya, tuntutan pusar ke bawah ini sering menyebabkan halimun pekat di pikir dan hati.

Dalam perjalanannya, gerakan dengan dasar yang salah itu akan berteriak-teriak sebisanya. Tidak peduli apa imbasnya. Menutup kejernihan logika, menghela kepekaan hati. Mata dipaksa melihat hal yang menguntungkan saja. Bibir dibiarkan bersuara tanpa harus tertata dan bernyawa makna. Langkah sempoyongan, karena lupa dengan jalan!

Tetapi mereka lupa kalau alam selalu mencari keseimbangan. Atau mereka belum mengerti jika harus menuju yang berarti.

langkah gonta itu mulai lelah, bisikan rasa bosan mulai memanggil jiwa. Hati yang lama ditinggalkan mencoba merayu untuk rindu kembali kepangkuan ibu. Mata mulai merah nanar menatap bekas-bekas tampak yang telah memporak-porandakan sendi-sendi hidup. Jeritan-jeritan lara menemani sunyinya malam.

Pecah Kongsi, sunatulloh atas langkah dari konsep dasar yang salah. Tragisnya, masing-masing telah menggenggam kartu as atas keberingasan jejak silam.

kasihan, kini masing-masing sibuk mencari dinding pembenaran untuk segera keluar dari kesalahan!

Dalam tahap ini, hanya satu kuncinya, intropeksi!

tidak akan sembuh dengan bahasa filsafat. Tidak akan luruh dengan saling menghujat. Tidak akan pernah ceria lagi, sebelum berani untuk bertekad kembali, ke jalan sunyi. Jalan Tuhan yang bersih dari konsep dasar yang salah, kotor, dan bernanah.

Berhijrah dari konsep yang salah, menjamin gairahnya langkah, walau hanya sebatas pusar, bawah dada!

Pecah Kongsi, efek dari sulitnya diri berhijrah untuk terus mensucikan diri. Karena memang pusar sampai ke kaki tidak akan pernah ditemukan hati!

 

Selamat Tahun Baru Hijriyah, 1437 H. Semoga kita selalu kompak dalam melangkah menuju kebaikan! Aamiin

 

Kertonegoro, 15 Oktober 2015
Salam,

Akhmad Fauzi

 

Ilustrasi : lifestyle.liputan6.com

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun