Mohon tunggu...
Tiara JaffaAdelyn
Tiara JaffaAdelyn Mohon Tunggu... Jurnalis - Profil

Trying to share about some facts

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Pertanian Bukan Lagi Hal yang Digandrungi Warga Cisarua

4 Maret 2020   09:53 Diperbarui: 4 Maret 2020   10:08 84
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Salah satu lahan pertanian di Cisarua, hanya terdapat sedikit lahan yang terdapat di Cisarua, dikarenakan lahan pertanian berganti menjadi lahan penginapan | dokpri

Lahan pertanian daerah Cisarua, Kabupaten Bogor semakin berkurang seiring waktu ke waktu. "Tercatat lahan pertanian didaerah Cisarua hanya 7 hektar, dari total 200 hektar luas daerah Kabupaten Cisarua, dengan tambahan 3 hektar lahan perkebunan." Ungkap Endang Sumantri S.Ip selaku Lurah di Kelurahan Cisarua, yang ditemui di Kantor Kelurahan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawab Barat, pada Jumat (28/2/2020)

Cisarua, merupakan daerah wisata yang terletak di salah satu Kabupaten Bogor, Puncak, Jawa Barat. Cisarua dikenal sebagai kawasan wisatanya, diderah tersebut pula terdapat Taman Safari yang menjadi destinasi wisata favorite warga Jabodetabek. Hotel berbintang, home stay, villa merupakan hal yang sangat diminati sebagai mata pencaharian bagi para warga Cisarua.

Pertanian merupakan salah satu dari beberapa sektor yang sedang digencarkan karena diperkirakan akan terjadi penurunan pada sektor pariwisata di tahun 2020 yang disebabkan oleh  wabah Virus Corona atau yang kini disebut COVID-19. Namun, menurut survei yang dilakukan ke Kelurahan Cisarua, warga Cisarua tidak memanfaatkan lahan yang ada sebagai lahan pertanian. Mereka lebih memilih untuk menjadikan lahan tersebut sebagai  Villa, hotel atau bahkan home stay. Pemilik lahan pertanian yang terdapat di Cisarua rata-rata merupakan bukan warga dari Cisarua sehingga petani yang terdapat di Cisarua merupakan petani penggarap.

Salah satu Petani Penggarap yang ditemui adalah pak Sasto. Ia mengatakan, menjadi petani penggarap tidaklah mendapatkan banyak keuntungan. Malah hasil yang ia dapatkan ketika panen harus dibagi tiga kepada pemilik lahan, saudara yang memiliki lahan yang tinggal didekat lahan, dan juga dirinya. Ia juga mengatakan bahwa menjadi petani penggarap saja tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hasil yang ia dapatkan, hanya untuk konsumsi pribadi saja, tidak untuk diperjual-belikan.  Ia juga menambahkan, bahwa modal yang digunakan untuk menanam padi adalah modal ia pribadi.

Endang Sumantri S.Ip selaku Lurah dikelurahan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat | dokpri
Endang Sumantri S.Ip selaku Lurah dikelurahan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat | dokpri

Endang Sumantri S.Ip selaku Lurah di Kelurahan Cisarua mengatakan, menurut pendapatnya, akan lebih banyak menguntungkan jika lahan yang ada dijadikan usaha seperti dibukanya Hotel, villa, atau home stay. Menurutnya itu akan lebih menguntungkan, karena semua usaha penginapan membayar pajak dan membuka lapangan pekerjaan bagi warga Cisarua.

Untuk keperluan seperti beras dan juga kebutuhan dari hasil pertanian lainnya, didapatkan dari daerah Cipanas. Jika terdapat banyak petani penggarap, maka itu hanya menjadi keuntungan diantara pemilik lahan dan juga petani penggarapnyaa. Tetapi, jika dijakan usaha penginapan, hal tersebut akan menguntungkan pemerintahan, dan juga warga sekitar yang dapat bekerja dipenginapan tersebut.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun