Mohon tunggu...
Thurneysen Simanjuntak
Thurneysen Simanjuntak Mohon Tunggu... Guru - Nomine Kompasiana Awards 2022 (Kategori Best Teacher), Pendidik, Pegiat Literasi, serta Peraih 70++ Penghargaan Menulis.

www.thurneysensimanjuntak.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mendewa(sa)kan (Ber)media Sosial

16 Agustus 2016   10:41 Diperbarui: 16 Agustus 2016   11:03 248
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber gambar : www.acehterkini.com

Bisa anda bayangkan seandainya dunia ini diisi oleh pria. Atau sebaliknya, hanya wanita saja. Demikian juga dengan warna. Alam ini hanya terdapat warna hitam atau merah saja. Bagaimana pula bila tidak ada bukit dan lembah, kita tidak bisa melihat indahnya sebuah pegunungan. Itulah arti perbedaan. Perbedaan itu hadir untuk saling melengkapi serta memberi keindahan dan harmoni.

Indonesia sendiri adalah bangsa yang beragam. Beragam dari suku bangsa (etnis), agama, ras dan golongan. Jelas ini adalah sebuah kekayaan yang perlu disyukuri. Bahkan dunia pun mengakui, kalau bangsa kita adalah bangsa yang majemuk.

Perlu diketahui bahwa sejarah mencatat, Indonesia sejak semula ternyata merupakan masyarakat yang terbuka akan keragaman. Lihat saja di kerajaan Mataram Kuno, Hindu dan Buddha bisa hidup berdampingan. Demikian halnya di kerajaan Majapahit, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah wujud dari masyarakat yang menerima keragaman tersebut. Walaupun berbeda tetapi tetap satu.

Hingga sekarang komitmen bangsa kita pun tetap mengakui keragaman tersebut. Semboyan yang diletakkan di kaki burung garuda, Bhinneka Tunggal Ika, sebagai salah satu pilar bangsa adalah bukti nyata. Belum lagi ideologi dan konstitusi negara yang juga mengatur keragaman tersebut. Artinya untuk ranah nilai dan norma, jelas bahwa bangsa kita mengakui dan mengatur keberagaman tersebut.

Tapi kenyataannya, keragaman tidak seindah teorinya. Ternyata ada saja yang tidak melihat keragamaan itu sebagai sebuah kekayaan, tapi menganggapnya sebagai suatu penghambat. Entahlah, kacamata apa yang digunakan untuk memandang keragaman tersebut. Bila tidak sama dengannya kalau bisa disingkirkan.

Misalnya dalam tataran agama. Negara kita telah mengakui enam agama. Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu. Tetapi perbedaan agama ternyata sering menjadi pemicu konflik. Lihat petistiwa di berbagai daerah seperti di Singkil, Tolikara, Tanjung Balai, dan lain sebagainya.

Amat disayangkan ternyata media sosial sering dimanfaatkan pihak tertentu untuk memperuncing masalah. Penyebaran informasi yang kurang akurat dan provokatif tentu sangat berpengaruh buruk. Seharusnya informasi-informasi yang disebarkan adalah informasi yang membangun kedamaian dan keharmonisan. Celakanya, penerima atau pembaca informasi juga sering tidak menyaring informasi dari media social tersebut. Alhasil, permasalahan semakin panjang, dendam tertanam dalam hati dan sulit menyelesaikan permasalahan hingga ke akar-akarnya.

Era global dan modern adalah era keterbukaan. Batas sebuah bangsa semakin tipis. Berkat kemajuan perdagangan, transportasi dan teknologi informasi, semua seolah tanpa batas. Dengan demikian mau tidak mau manusia harus membuka diri. Suka tidak suka mampu memandang perbedaan sebagai peluang untuk saling mendukung. Hanya orang-orang terbuka jugalah yang akan bisa berirama mengikuti perkembangan zaman ini.

Era digital dan internet juga tidak bisa kita  bendung. Media sosial semakin marak. Hampir semua saat ini bisa dengan mudah mengakses media sosial. Facebook, twitter, instagram, dan lain sebagainya. Hampir setiap handphone atau smartphone telah terakses dengan media social. Kedewasaan pikiran dan hati tentu akan mempengaruhi kedewasaan tindakan. Informasi apa yang ingin klita dapat dan kita sebarkan tentu tidak terlepas dari kedewasaan tersebut.

Sudah saatnya masyarakat kita memasuki era digital dan internet, bahkan dengan maraknya media sosial dimanfaatkan untuk hal-hal yang membangun kerukunan. Mari mendewasakan diri dalam bermedia sosial bukan mendewakan media social. Betapa ruginya bangsa kit ajika kita saling menyerang, merusak kedamaian dan keharmonisan yang telah terjalin dengan postingan-postingan yang destruktif di media sosial. Saatnya kita memandang ke depan, mengejar ketertinggalan bangsa. Bukankah dengan kemajuan bangsa ini adalah kemajuan diri kita juga?

Salam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun