Mohon tunggu...
T.H. Salengke
T.H. Salengke Mohon Tunggu... Petani - Pecinta aksara

Ora et Labora

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Polemik Kemunculan Pemimpin di Tahun Politik

16 Maret 2018   06:29 Diperbarui: 16 Maret 2018   07:09 429
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tahun 2018 merupakan tahun politik katanya. Artinya pada tahun ini masyarakat Indonesia akan disibukkan dengan serangkaian kegiatan politik yang intensitas tinggi terkait pemilihan kepala daerah secara serentak. 

Yang lebih seru lagi, bahwa tahun ini merupakan masa-masa menyusun kekuatan untuk menghadapi hajat besar bangsa dalam berdemokrasi untuk memilih pemimpin negara sebagaimana berlangsung selama ini setiap lima tahun. Nama-nama calon pemimpin mulai bermunculan, dan reaksi masyarakat pun santer dengan berbagai ragamnya.

**

Istilah pemimpin tentu sering kita dengar, namun tak selalunya kita mengerti akan hakikat pemimpin sehingga kita sering salah kaprah mensikapi orang yang memimpin kita.

Baik kita sendiri atau orang lain, tentu pernah memuji sosok seorang pemimpin. Namun demikian, pada masa yang sama, pasti juga pernah mencerca bahkan mencaci sosok pemimpin yang kurang kita sukai. 

Memuji dan mencaci seseorang pemimpin tertentu, baik secara langsung atau tidak langsung tanpa mengerti seluk beluk model pemimpin dan karakter kepemimpinannya, tentu sangat naif.

**

Lantas bagaimana seseorang bisa menjadi pemimpin sebuah kelompok masyarakat? Banyak pendapat yang membahas tentang hal ini seperti halnya yang disebutkan dalam teori genetik bahwa pemimpin itu dilahirkan. Artinya bahwa seseorang yang akan menjadi pemimpin biasanya lahir dari keturunan seorang pemimpin seperti halnya putra mahkota yang akan mewarisi kepemimpinan raja yang juga merupakan ayahnya sendiri atau sesorang yang kelak akan menjadi pemimpin merupakan anak pemimpin negara yang sudah sedari kecilnya tampak bakat kepemimpinannya.

Di Indonesia dan Malaysia, bahkan juga di negara lain, banyak pemimpin yang menurunkan legasi kepemimpinan kepada putra-putrinya. Dalam kasus ini, seorang anak akan memanfaatkan pengaruh orang tuanya untuk menakluk orang-orang yang akan dipimpinnya.

Namun demikian, ada juga yang berpendapat bahwa pemimpin itu dibentuk seperti yang dijelaskan dalam teori sosial. Maksudnya seorang pemimpin itu bisa datang dari kalangan mana pun lalu dibentuk dan dilatih untuk mencapai tahap tertentu layaknya sebagai seorang pemimpin.

Saya pribadi justru cenderung pada prinsip bahwa pemimpin itu lahir dan dibentuk atau konsep ekologi. Alasanya walaupun anak seorang raja atau seorang pemimpin berkaliber, tetapi apabila sejak kecil hingga dewasa tidak dilatih dan dibekali dengan ilmu dan keterampilan memimpin, maka tentu tidak akan bisa mencapai tahap sebagai pemimpin yang bijaksana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun