Mohon tunggu...
The Balbalans
The Balbalans Mohon Tunggu... Freelancer - Sepakbola Akar Rumput

Created by The Poor, Stolen by The Rich

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Masa Suram Si Kelalawar di Bawah Rezim Peter Lim

15 Desember 2024   19:02 Diperbarui: 15 Desember 2024   19:02 24
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Peter Lim, konglomerat asal Singapura (Foto: ft.com)

Sepuluh tahun yang lalu, Valencia adalah salah satu klub terbesar di LaLiga. Mereka rutin finis di empat besar dan bermain di Liga Champions, tempat mereka bersaing dengan tim-tim terbaik Eropa. Mestalla, stadion ikonik mereka, selalu bergemuruh setiap kali 'Los Che' bermain. Tapi sekarang? Valencia terdampar di dasar klasemen LaLiga, sesuatu yang sulit dibayangkan bagi klub dengan sejarah besar seperti mereka. 

Memang, terlalu dini untuk bilang mereka terancam degradasi. Skuatnya masih punya potensi, meski jelas jauh dari standar yang seharusnya. Masalah utamanya adalah kebijakan klub yang terlihat seperti mimpi buruk. Musim ini, mereka hanya mengeluarkan 1,35 juta untuk belanja pemain. Bandingkan dengan musim 2018/19, ketika mereka juara Copa del Rey dan mencapai semifinal Europa League. Itu adalah masa-masa terakhir Valencia menunjukkan tanda-tanda kejayaan. 

Sejak saat itu, semuanya berubah. Valencia menjadi contoh nyata klub yang dikelola oleh pemilik yang lebih peduli soal keuntungan daripada prestasi. Peter Lim, seorang pengusaha asal Singapura, mengambil kendali dan membawa pendekatan bisnisnya ke klub. Hasilnya? Kebijakan transfer yang memprioritaskan profit dibandingkan kualitas tim. Sejak musim 2020/21, Valencia hanya menghabiskan 41 juta untuk membeli pemain, tetapi meraup keuntungan 164 juta dari menjual bintang-bintang terbaik mereka, seperti Ferran Torres, Rodrigo, dan Dani Parejo. 

Namun, apa yang mereka dapatkan di lapangan? Peringkat terbaik mereka di liga sejak itu hanyalah posisi ke-9. Fans yang dulu setia kini semakin muak. Protes di stadion Mestalla sering kali terjadi, dengan spanduk besar yang menuntut perubahan manajemen. Mereka lelah melihat klub kebanggaan mereka dihancurkan oleh pemilik yang tampaknya tidak peduli. 

Ironisnya, Peter Lim tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Singapura menurut Forbes pada tahun 2023. Tapi kekayaannya tak digunakan untuk membangun kembali Valencia. Sebaliknya, klub terus terpuruk, dan para pendukung hanya bisa bertanya-tanya: apakah 'Los Che' masih bisa bangkit dari keterpurukan ini?

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun