Mohon tunggu...
teuku.muhammad nurdin
teuku.muhammad nurdin Mohon Tunggu... -

Sebagai guru sejarah yang suka membaca dan menulis apa saja yang berguna bagi semua.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pristiwa G 30 S/PKI :Hasil Rekaysa Suatu Konspirasi yang Masih Misteri

1 Oktober 2012   15:49 Diperbarui: 24 Juni 2015   23:24 4764
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Dalam kontesk ini PKI menuding bahwa terdapat"Dewan Jenderal"yang hendak merebut kekuasaan dari rejim Orde lama pimpinan Presiden Sukarno sehingga mereka mendahuluinya untuk menyelamatkannya, seriring menculik para jenderal AD yang di eksekusi di Lubang Buaya,kawasan belakang Bandara Halim Perdana Kusuma.Menurut ceritera dalam film G 30 S/PKI dengan jelas kelihatan betapa biadabnya PKI dan Gerwani yang melakukan penyikasaan terhadap para Jenderal tersebut.

Namun menurut hasil visum dokter terhadap jenazah patara jenderal yang kemudian di ambil oleh Suharto,namun fotokopinya di ketemukan beberapa tahun kemudian bahwa tidak  ada tanda-tanda penyiksaan seperti itu  terhadap jenazah para jenderal"pahlawan revolusi" itu.Jadi banyak terdapat kejanggalan yang perlu di pertanyakan tentang sejarah G 30 S/PKI tersebut.Terkait dengan masalah itu misalnya dimana naskah Supersemar yang asli ,juga dimana sekarang surat visum et reportum asli yang diambil oleh Suharto itu ?

Kemudian pertanyaan serupa sebelum terjadi penculikan terhadap para Jenderal,Brigjen Suharto bertemu dengan Kolonel Latif .Dan apakah hal itu  sebagai indikasi  bahwa sesungguhnya Suharto sudah mengetahui gerakan tersebut sebelumnya ? .Lalu apa yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa  berdarah tersebut ? Dan sekiranya naskah asli Supersemar itu ada dimana sekarang,masak landasan berdirinya Orde baru itu hanya berdasarkan secarik fotokopi  belaka ? Lalu mengapa pemeritah juga sepertinya kurang perhatiannya untuk menyelidiki peristiwa tersebut ,karena terkait suatu pelanggaran HAM yang berat.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun