Dalam sebuah film jadul, berjudul "Carok," adalah Prof. Hombing, karakter guru besar pada fakultas hukum, yang dalam sebuah dialog antara dirinya sebagai dosen pembimbing dengan tokoh Jamal.
Tokoh Jamal diperankan oleh Barry Prima, mahasiswa bimbingannya, yang merasa bimbang karena meyakini dirinya telah salah memilih jurusan. Kebimbangannya justru muncul pada tahap-tahap akhir penulisan skripsi untuk meraih gelar sarjana hukum.
Prof. Hombing mengulurkan tangannya menjabat tangan Jamal di akhir keluhannya terkait kebimbangannya.
Kata sang profesor: "Kamu calon sarjana hukum yang baik. Kamu bukan bimbang, tapi sangsi. Sebagai sarjana hukum yang baik, perasaan sangsi akan selalu ada. Kalau sangsi cepat sekali berubah menjadi merasa pasti, maka patut diragukan, jangan-jangan kamu bukan lagi calon sarjana hukum. Kamu mungkin adalah calon pedagang, atau politikus, atau manajer, atau barang kali kamu bukan siapa-siapa lagi."
![Sad Reality (https://viraluck.com/33-jokes-of-the-day-for-monday-19-november-2018/)](https://assets.kompasiana.com/items/album/2019/10/12/46473986-2270912373146790-4796265313169571840-n-5da170740d823037687902f2.jpg?t=o&v=770)
Maka, untuk mengukur tingkat kenormalan kita sebagai penonton acara debat hukum dengan menggunakan logika hukum Prof. Hombing di film Carok pada saluran teve lainnya itu, seharusnya kalau kita sedikit saja memahami hukum, kita akan merasakan sedikit sangsi.
Dengan kata lain, maka kalau kita memang benar-benar sepenuhnya memahami ilmu hukum, maka seharusnya kita benar-benar sepenuhnya merasa sangsi. Ingat, bukan bimbang?.
Pada akhir cerita filmnya, Jamal yang adalah calon sarjana hukum, akhirnya masuk penjara. Ia lebih memilih untuk tidak sangsi dalam membalaskan dendam atas kematian ayahnya dengan menjalankan tradisi Carok. Itu adalah pertarungan pembalasan dendam di mana nyawa diganti nyawa.
Sesuai dengan judul filmnya, yang sama sekali bertentangan dengan hukum yang mati-matian dipelajarinya sebelum akhirnya ia masuk penjara.
Meskipun diangkat sebagai cerita film, tradisi untuk memilih bersikap tidak sangsi, ternyata bisa berakhir dengan hukuman. Maka, begitulah bila menjadi seorang antagonis. Semakin dibenci, berarti semakin berhasil memainkan peran oposisi.
Bahwa tidak menjadi masalah untuk menjadi antagonis, sepanjang peran itu adalah untuk akhir cerita yang baik demi kebaikan orang-orang yang patut untuk dibela. Tidak selamanya yang terbanyak adalah yang terbaik.