Malam semakin larut, pikiran Tini semakin kusut.” Aarggh . . kenapa ide ini tak muncul-muncul?? Ohh proposaaal!” sembari sekali-kali dilihatnya bbm di handphone, “sepertinya ini memperkusut suasana, kumatikan sajalah ponsel ini!”. “Tapi kalau dimatiin nanti kalau ada informasi jadi ngga ngerti, ah nyalain lagi dah!”
Ditengah susunan kata yang Tini rangkai, ponselnya bergetar, drrrt...drrrt.... dengan lihainya ia buka pola penguncian ponselnya, bbm dari yang terkasihpun diterimanya “Jangan tidur kemaleman ya sayang...” balasan dari Tini yang tak kalah lihai cepatnya “siap sayang, terimakasih.” Jam sudah menunjukkan pukul 00.00, Tini masih berkutat dengan laptopnya. Tiba-tiba terlintas dipikirannya, ketika membuka pola ponsel, membalas bbm dari kekasih rasanya tak sedikitpun mengusutkan pikiran, namun kenapa mengerjakan tugas seolah mengusutkan pikiran. Tersusunlah pola dipikiran Tini , “aku kalau mau buka pola ponsel cepet, bales bbm pacar cepet, nulis ide proposal kusut, dimana salahnya ya??”
“Mungkin tidak sih karena ngerjainnya tidak pakai hati?? Kayaknya iya deh.” “Coba ini kalau pakai hati pasti lancar.” Perlahan Tini mengingat-ingat masa jatuh cinta yang ia alami dahulu, pertama kali bertemu dengan kekasihnya, pertama bertegur sapa, pertama kali melempar senyuman hingga memutuskan untuk berkomitmen dengan kekasihnya.
Ketika melihat tema proposal yang dilihatnya ia ingat-ingat masa pertama bertemu dengan calon kekasihnya, ia tersipu, namun menyimpan banyak pertanyaan. Dibukalah tema proposal yang ia punya, muncullah banyak pertanyaan dikepalanya tentang tema tersebut, persis dengan ketika ia bertemu pertama kali dengan calon kekasihnya, penuh dengan tanda tanya. Setelah berkenalan dengan tema proposal yang ia miliki, ia ingat kembali fase apa yang ia lewati setelah berkenalan dengan calonkekasihnya, masa pendekata. Ya dimasa ini, Tini mulai memastikan apakah calon kekasihnya ini pantas untuk dijadikan kekasihnya, mulailah kecurigaan Tini untuk calon kekasihnya, begitu pula ia memperlakukan calon proposalnya ini, mulai menyelidiki latar belakangproposal, rumusan masalah, hingga tujuan proposal ini dibuat.
Setelah fase pendekatan, saatnya Tini memutuskan apakah ingin berkomitmen dengan calon kekasihnya ini atau tidak, ia pun memutuskan untuk berkomitmen, sama halnya dengan proposal yang akan menuntut komitmen lanjutan padanya. Bersambung . . .
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H