Mohon tunggu...
Taufiq Sentana
Taufiq Sentana Mohon Tunggu... Guru - Pendidikan dan sosial budaya
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Praktisi pendidikan Islam. peneliti independen studi sosial-budaya dan kreativitas.menetap di Aceh Barat

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Horor Sebuah Kota

20 Agustus 2023   08:57 Diperbarui: 20 Agustus 2023   09:54 90
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Wajah itu mengapung di atas cangkir cangkir kopi. Tak ada lagi musik. Hanya getar aliran darah dari ketidakberdayaan. Jendela jendela hotel dan atap atap rumah. Juru parkir yang tertidur dengan baju putih yang kumal.

 Wajah itu melebar dan mendobrak cermin cermin kafe 8x35 di lorong kota. Mencari bentuk dari waktu yang mengosongkan dada. 

Ooh...dada dada yang menyimpan gambar cerobong pabrik baja dan jalan layang antariksa. Sekolah sekolah yang berdinding tinggi.asing dan sendiri.

Baca juga: Horor

Sebaris senyum di bibir cangkir dari sepersekian malam yang menyimpan bunga matahari. Asap pekat meliuk liuk dari lidahnya. Tak ada cahaya di sini: katamu. 

Meja meja kopi seperti menyiapkan mendung. Di luar, suara suara mobil yang meradang sedih, melaju kencang.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Baca juga: Pada Sebuah Kota

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun