Bagi sebagian orang, mengais sedikit hikmah dan pelajaran itu mungkin hal sangat mudah. Tetapi, bagi sebagian yang lain, mungkin sangat sulit. Sebab (nyatanya) masih saja banyak orang tak bisa memetik hikmah dari pelajaran video kontroversial di media sosial.
Kehadiran medsos yang sesungguhnya bisa kita jadikan sebagai alat untuk merambatkan pesan-pesan positif dan menginspirasi, sekarang ibarat sebuah keranjang sampah (maaf). Ia dibutuhkan untuk menampung postingan-postingan nirmanfaat, ide konyol, isu-isu murahan dan konten-konten yang bikin sesak. Â
Di sana, di medsos, pemilik-pemilik konten menumpuk-numpuk 'sampah' buatannya dan saling membangun interaksi, melipatgandakan limbah dan polusi yang merusak.
Laki-laki dan perempuan, berpendidikan dan tidak, kaya miskin, tua muda, semua saling bertukar konten dan berkomunikasi tanpa sekat. Para kreator konten membangun keramaian dan keriuhan dalam tema dari sebuah isu, berlomba-lomba menjadi nomor satu, diperbincangkan, menjadi viral dan merebut jutaan mata dan perhatian.
Kita bisa dan mudah menuliskan deretan video-video konyol yang menjadi viral hanya pada tahun ini saja yang bermuncul di kanal YouTube dan Tiktok. Sebut saja YouTuber Edo Putra. Ia membagikan bungkusan yang disebut daging kurban, namun ternyata isinya sampah. Videonya menjadi viral.
Konten video prank Edo Putra tersebut seperti tak jauh berbeda dari video-video kontroversial sebelumnya yang serupa seperti yang dibuat Ferdian Paleka yang membagikan bungkusan sembako yang ternyata isinya adalah sampah (juga).
Lalu ada lagi video pendek emak-emak yang berjoget di Jembatan Suramadu yang viral di media sosial Tiktok. Setelah dipanggil polisi, emak-emak itu lantas meminta maaf.
Nah, kini, video yang hampir serupa muncul kembali di medsos, belakangan ini. Sebuah video yang memperlihatkan sekelompok perempuan yang menginjak bendera merah putih untuk konten di TikTok mampir di timeline saya. Mudah ditebak; video itu menjadi sorotan publik. Dan kemudian menjadi viral.
Mengapa video-video seperti ini terus diproduksi, di-reproduksi dan dibagikan?
Jawabannya ya itu tadi: kita enggan melakukan introspeksi, mengambil pelajaran dan mengais hikmah.
Akhirnya, kita mungkin akan melihat sekelompok masyarakat yang semakin permisif atas tindakan atau cara instan yang abai etika. Hilang atau tidak ada lagi sopan santun, adab, tata krama dalam kamus luhur kita.