Terinspirasi buku Pulang dimana diceriterakan bahwa sewaktu kecil Lintang Utara sering diajak sang ayah berjalan-jalan ke pemakaman Pere La Chaise , akhirnya saya pun menyempatan diri berkelana menyambangi makam-makam yang ada di kuburan yang terletak di bagian timur kota Paris ini.
Dengan kendaraan favorit saya di seantero bumi , yaitu metro atau kereta bawah tanah, saya menuju ke pemakaman ini.Walau ada tiga stasiun metro di sekitar pemakaman tua yang dibuka pada awal abad ke 19 ini, saya memilih untuk turun di stasiun Gambetta di ligne 3.Dari stasiun ini ada petunjuk menuju Cimetiere du Pere Lachaise dengan menyusuri Avenuedu Pere Lachaise yang namanya diambil dari Pere Francois d’aix de La Chaise, yaitu salah satu penasehat Louis ke XIV.Demikian menurut papan nama jalan yang terletak di Arrondisement ke 20 di Paris ini.
Pagi itu, kira-kira pukul 10 waktu Paris, tidak terlalu banyak orang yang berziarah maupun berwisata di pemakaman. Tujuan pertama saya adalah makam Oscar Wilde, salah satu penulisyang berdarah Irlandia yang cukup terkenal dan menyebabkan pemakaman ini menjadi salah satu ikon wisata kota Paris.Untuk mencari makamnya pun tidak terlalu sulit, karena tidak jauh dari pintu makam ada sebuah papan berisi peta tata letak makam. Dan nisan Oscar Wilde ada di blok 88.
Nisannya berbentuk seperti kendaraan kuno para dewa mesir. Dengan hiasan malaikat bersayap yang mengingatkan saya akan kuil kuil di Luxor. Di sekitar makam , cukup banyak wisatawan yang berziarah ataupun sekedar berfoto- sehingga tidak usah bertanya dimana letak makam ini.Yang unik dan aneh dari makam Oscar Wilde ini adalah kaca pelindung yang menutupi batu nisan sang pengarang. Kaca ini dipasang untuk mencegah para pemuja menciumi batu nisan dengan menggunaan lipstick berwarna pink.
Setelah beberapa saat menikmati suasana di sekitar makam Oscar Wilde, saya mulai melihat lihat pusara dan nisan yang ada di Pere La Chaise ini. Cukup banyak orang terkenal baik dari Perancis maupun luar Perancis yang dimakamkan disini, salah atunya adalah nisan kompnist terkenal yang berasal dari Polandia, Chopin dan juga penyanyi terkenal Maria Callas, bahkan banyak juga yang berasal dari Turki dan Kurdistan.
Menjelajah di dunia orang mati ini , memang mengasyikan. Apalagi bentuk nisan yang ada sangat beragam sehingga kita bagaikan berwisata ke alam setelah kematian.Selain nisan yang berbentuk rumah dengan kubah , ada juga yang sederhana berbentuk salib dan sebagian lagi dihiasi patung baik berdiri maupun tidur di atas makam.
Selain makam dengan nama Perancis dan Eropa lainnya, yang menarik ada juga makam dengan nama Asia. Yang sempat saya jumpai adalah nisan dengan nama Keluarga Tata yang merupakan nama etnis India. Selain itu ada juga makam dengan nama Cina dan bahkan dengan aksara Cina.
Saya terus menyusurijalan-jalan di kompleks ini yang bentuknya bagaikan labirin sambil menuruni bukit. Untuk mempersingkat jarak menuju pintu utama di dekat stasiun metro Phililpe Auguste, saya pun melewati deretan makam untuk sampai ke jalan berikutnya yang ketinggiannya lebih rendah. Kadang-kadang, ada tangga yang harus dituruni untuk sampai ke tingkat jalan di bagian bawah.
Keasyikan mengembara di dunia orang mati ini membuat saya terpesona dan bagaikan tersihir. Bentuk nisan yang eksotis seperti keranda bertingkat, piramida, dan juga dedaunan yang menutupi pusara mempunyai pesona magis yang tersendiri. Kian jauh berjalan dari jalan utama, kian sepi dan kian jarang terlihat pengunjung.Kemudian, tiiba-tiba saya menyadari bahwa tidak ada seorangpun di sekeliling saya.Yang ada hanya angin semilir, suara dedaunan, dan kesunyian yang mencekam!
Suasana makam yang sepi, deretan pusara dan nisan tua dalam berbagai bentuk serta langit kota Paris yang tiba-tiba saja menjadi mendung membuatsaya sempat terhenyak dan kehilangan orientasi tempat. Yang menjadi panduan arah hanyalah letak pintu utama yangmasih jauh di bawah namun entah di mana.
Saya terus kembali menyusuri jalan sempit di antara makam dan akhirnya setelah cukup lama tersesat dalam kesendirian yang sunyi, barulah kemudian bisa kembali ke jalan utama yang agak besar dan bertemu dengan pengunjung lain. Dari sini barulah saya bisa mencari jalan keluar menuju ke pintu utama.Dari gerbang utama ini, kemudian belok kiri menyusuriRue de Repos dan akhirnya sampai juga di intu masuk stasiun Metro Philipe Auguste di Ligne 2.
Perjalanan di Pere Lachaise ini bak sebuah pengembaraan tanpa tujuan yang pasti.Sebuah perjalanan menyelinap ke dunia orang mati yang penuh kejutan yang nikmat dan kadang-kadang sedikit menyeramkan, namun tetap penuh gairah dan membuat saya tetap ingin kembali lagi.
Suatu perjalanan yang mengingatkankan bahwa semua yang hidup pasti akan mati!
Paris. MedioJuni 2013
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H