Dalam politik, seharusnya pemimpin dipilih berdasarkan kapabilitas dan rekam jejaknya, bukan karena fanatisme atau kebencian terhadap tokoh lain. Bukan pula karena kesamaan etnis atau identitas  lainnya.
 Namun, apa yang terjadi di Indonesia sering kali sebaliknya. Banyak orang mendewakan seorang tokoh berdasarkan kesamaan identitas dan pada saat yang bersamaan sangat membenci politik lawannya, seakan-akan masa depan mereka bergantung sepenuhnya pada tokoh  yang berkuasa.
Fenomena ini terlihat jelas dalam perdebatan seputar Anies Baswedan, Joko Widodo (Jokowi), Prabowo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ada yang begitu mengidolakan Anies dan juga Prabowo  hingga membenci Jokowi dan Ahok, ada yang mendukung Jokowi sambil menyerang Anies, dan ada pula yang mendewakan Ahok seakan akan bisa mengubah nasibnya.
Namun, tidak semua yang membenci Ahok otomatis mendukung Anies. Ada kelompok yang tidak suka Ahok karena kebijakannya atau gaya kepemimpinannya, tetapi juga tidak mendukung Anies karena alasan lain. Begitu pula, Jokowi sering mendapat tuduhan seperti PKI, ijazah palsu dan masih banyak lagi.Â
Â
Uniknya ketika semua sudah mendapat giliran berkuasa, mereka yang terus berteriak dan menyuarakan kebencian, tetap saja nasibnya tidak berubah. Menjadi rakyat jelata.
Di balik perdebatan ini, ada satu pertanyaan penting: apa sebenarnya yang rakyat dapatkan dari fanatisme politik ini? Apakah mereka yang membela mati-matian tokoh tertentu otomatis menjadi lebih sejahtera? Ataukah mereka justru terjebak dalam ilusi bahwa seorang pemimpin bisa mengubah hidup mereka tanpa usaha sendiri?
Fanatisme Politik: Antara Harapan dan Kebencian
Salah satu alasan utama masyarakat begitu fanatik terhadap tokoh politik tertentu adalah karena mereka menaruh harapan besar pada sosok tersebut. Mereka percaya bahwa hanya pemimpin idola mereka yang bisa membawa perubahan bagi negara.
Namun, fanatisme ini sering kali juga berakar pada kebencian terhadap pihak lain. Misalnya:
*Ada yang mendukung Anies karena merasa bahwa Jokowi dan Ahok tidak merepresentasikan kepentingan mereka.
*Ada yang mendukung Jokowi karena melihatnya sebagai pemimpin yang merakyat, tetapi sekaligus menyerang Anies dengan berbagai tuduhan.
*Ada yang mendukung Ahok karena dianggap tegas dan bersih, tetapi membenci kelompok tertentu yang sering menentangnya.
Polarisasi ini semakin memburuk karena narasi politik yang didorong oleh media sosial dan propaganda.
 Sayangnya, yang sering tidak disadari adalah bahwa siapa pun yang berkuasa, kehidupan masyarakat tidak akan otomatis berubah jika mereka sendiri tidak berusaha.