Acara Koteka Trip 16 kali ini sedikit beda dari biasanya, yaitu berkunjung ke Indonesia Kaya di Grand Indonesia Lantai 8, Jakarta Pusat. Â Saya sendiri sudah pernah mampir ke sini beberapa tahun lalu sebelum pandemi. Tetapi menurut berita Indonesia Kaya sendiri sudah melakukan banyak perubahan sehingga galeri nya lebih menarik untuk dikunjungi.
Sore itu, bersama Mbak Palupi dan Mbak Ajeng, saya juga nonton pertunjukan Monolog Topeng DAM yang dibawakan oleh seniman terkenal asa Jawa Barat, Kang Wawan Sofwan.  Pertunjukan monolog dimulai pukul 3 sore dan berlangsung sekitar 1 jam  lumayan ramai penonton yang hadir dan banyak juga yang membawa anak-anak dan keluarga.
Sebelum pertunjukan dimuai, sempat disampaikan bahwa akan ada beberapa kata atau frasa yang mungkin dirasakan sedikit vulgar dan kurang cocok untuk anak-anak Namun hal ini tidak dapat dihindarkan karena tema cerita Topeng DAM ini memang diadaptasi dari cerpen karya Putu Wijaya yang sarat dengan satir dan kritik akan kondisi sosial yang terjadi di masyarakat Indonesia pada masanya.
Menyaksikan seni pertunjukan alias Performing Arts memang terasa mengasyikkan. Namun ini adalah pertama kali bagi saya datang khusus untuk nonton pertunjukan monolog.  Saya sendiri biasanya lebih suka menyaksikan teater karena  memiliki  dekorasi panggung, musik dan pemain yang lebih meriah  Monolog sendiri, sesuai namanya memang terasa lebih monoton dan benar-benar tergantung hanya kepada kemampuan  pemain tunggal.Â
Wawan Sofwan sendiri membawakan kisah ini dengan nyaris sempurna Saya terbuai dengan kisahnya sejak awal dari akhir  Dengan tiga buah topeng gaya Pajegan Bali yang bergantungan dari langit-langit, Wawan berganti-ganti peran sebagai narator, hakim, jaksa dan terdakwa dalam kisah yang penuh nuansa protes dan friksi sosial ini
Kisah dimuai dengan terdakwa yang membunuh seorang yang sama sekali tidak dikenalnya hanya karena dia mengendarai mobil mewah.  Di sini kita disuguhkan dengan fakta ketimpangan antara si kaya dan si miskin yang sangat dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari  Jaksa pun kemudian menuntut hukuman mati dan kemudian dikabulkan  hakim Di sini kita disuguhkan pesan moral bahwa hukum sangat tajam untuk masyarakat kelas bawah.Â
Yang membuat pertunjukan ini lebih menarik adalah kostum yang dipakai Wawan yang mirip kostum badut serta suaranya yang berubah-rubah sesuai peran yang dimainkan, baik sebagai narator cerita, terdakwa, hakim ataupun jaksa  Mirisnya ketika berperan sebagai hakim, suaranya tampak dibuat sedikit mendayu-dayu yang tidak melambangkan hakim yang harus tegas dan berwibawa.  Mungkin, pesan yang ingin disampaikan Wawan dengan kostum dan caranya bernarasi adalah kita harus lebih santai dalam menghadapi kenyataan hidup yang keras ini
Pertunjukan ini juga menjadi lebih hidup karena Wawan sebenarnya bukan hanya  melakukan monolog alias berbicara sendiri, melainkan sesekali berinteraksi dengan penonton, terutama anak-anak, baik menanyakan pendapat, mengajak bertepuk tangan untuk memberi semangat, atau bahkan mengajak penonton untuk ikut serta di panggung