Apa yang bisa dilakukan terhadap sebuah kenyataan. Misalkan anak kita mendapat nilai yang tidak memuaskan. Itu adalah sebuah kenyataan, sebuah fakta. Titik. Apapun yang dilakukan, nilai sebagai sebuah kenyataan akan demikian adanya, tidak akan berubah. Selanjutnya baru kita rumuskan untuk melakukan berbagai hal untuk meningkatkan prestasi anak tersebut, tentu dengan cara yang wajar dan manusiawi.
Sikap kita akan lain, jika kita tidak mampu menerima kenyataan tersebut. Kita akan marah. Menghukum si anak dengan berbagai aktivitas tidak rasional untuk meningkatkan prestasinya. Selain itu, kenyataan bahwa nilai si anak kurang memuaskan tetap adanya. Ada juga yang begitu melihat nilai buruk anaknya kemudian mengalami stress. Mengapa bisa jelek, padahal menurutnya dia sudah belajar giat, dan sebagainya.
Kenyataan seringkali dianggap sebagai masalah, sehingga banyak diantara kita yang salah mensikapinya. Karena dianggap masalah, maka kita berusaha mengubah kenyataan itu. Padahal, namanya kenyataan adalah sejarah. Dia tidak mungkin diubah barang sedetik saja. Oleh karenanya perlu seni untuk mampu memetakan peristiwa atau kenyataan yang ada sehingga tidak dipersepsikan salah sebagai masalah.
Lampu mati adalah kenyataan, bukan masalah. Kalau kita tempatkan dia sebagai masalah, maka kita akan mengalami setres karena pusing tidak menemukan solusi menghidupkan kembali listrik yang mati karena gangguan nasional misalnya. Kita harus mampu identifikasi masalah secara jernih. Listrik mati adalah kenyataan, masalah yang muncul bisa bermacam-macam bergantung pada kepentingan masing-masing manusia. Bagi mahasiswa yang sedang belajar, maka kebutuhannya adalah cahaya sehingga dia bisa membaca dengan jelas. Ketika listrik mati, terjadi gelap. Maka solusi bisa segera ditemukan, gunakan lampu emergensi, mencari lilin, atau keluar mencari sumber cahaya lain.
Pada musim virus corona 19 ini, banyak orang mengalami stress karena salah mengidentifikasi masalah. Mereka mengutuk virus yang tidak tampak. Mereka memandang virus sebagai masalah, bukan sebagai kenyataan. Bahwa covid 19 ada adalah fakta. Masalahnya bagaimana agar kita tidak tertular atau menulari yang lain. Maka solusinya jelas, mengurung diri. Mengurung diri harus dipandang sebagai kenyataan. Bisa jadi masalahnya adalah sulitnya kita mendapatkan bahan konsumsi pokok. Maka solusinya bisa dengan pembagian sembako dan lain-lain. Bisa jadi masalahnya adalah kurang hiburan, maka bisa mengakses hiburan melalui media daring yang ada.
Pada prinsipnya, setiap masalah itu pasti ada solusinya. Jika kita sulit menemukan solusi dan mungkin sampai setres, bisa jadi kita salah mengidentifikasi masalah. Bisa jadi itu bukan masalah, tapi kenyataan yang kita sangka sebagai masalah.
Rumus agar tidak stress adalah kita menerima kenyataan sebagai kenyataan. Sesuatu yang sudah menyejarah. Ia akan begitu sampai kapanpun. Maka kita harus menerimanya dan merumuskan resolusi mengantisipasi masalah yang timbul pasca munculnya kenyataan itu. Nilai buruk itu adalah kenyataan. Masalah yang kemudian dapat kita rumuskan adalah bagaimana cara meningkatkan nilai anak kita di masa yang akan datang. Sehingga secara objektif kita bisa memberikan dorongan dan motivasi yang terukur. [Syarif_Enha@Nitikan, 25 Maret 2020]
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H