"Alhamdulillah Pak..." begitu suaranya penuh semangat.
B-a Ba, c a ca ... baca. Begitulah cara Ibu Euis dan teman-temannya mengeja kata. Satu per satu, hingga kata demi kata. Dan sekarang, kaum buta aksara GEBERBURA masih terus berjuang untuk membaca dan menulis dalam bentuk kalimat. Kian sulit memang tapi mereka tetap bersemangat. Kaum buta huruf, hari ini hanya bermodalkan tekad. Agar bisa terbebqas dari belenggu buta aksara. Mungkin hanya tekad yang bisa dibanggakan dirinya esok. Dia memang bodoh, dia memang buta huruf. Tapi dia masih mau ikhtiar belajar. Sekalipun di usia senja.
"Pak, terima kasih ya. Sudah mau ajarin saya. Semoga Bapak sehat ya Pak" katanya lirih. Seusai diperiksa PR-nya, maju ke papan tulis untuk menulis lalu membaca sendiri tulisannya. Raut wajah Ibu Euis pun merekah. Seakan dalam hatinya, ia mau berkata. Saya bangga bisa merasakan susahnya jadi orang yang sedang belajar. Ibu Euis pun berhak membawa pulang seliter beras. Sebagai hadiah bagi kaum buta huruf yang masih mau datang belajar dengan ikhlas dari sang guru.
Itulah fakta seorang Ibu Euis, kaum buta huruf di tengah era digital. Katanya zaman canggih tapi dia tidak bisa baca-tulis. Mungkin di pelosok sana, di negeri nusantara ini, masih banyak kaum buta huruf seperti Ibu Euis. Tapi belum sempat bisa belajar. Akibat tidak adanya orang yang mau mengajarinya baca-tulis.
Â
"Tolong ajari saya baca-tulis..." begitulah suara hati Ibu Euis dan ibu-ibu lainnya di kejauhan. Suara batin yang membutuhkan uluran tangan orang-orang pintar. Untuk membebaskan dirinya dan yang lainnnya dari belenggu buta huruf. Tentu, Ibu Euis hanya bagian kisah nyata di era digital. Tentang kaum buta huruf yang terus berjuang untuk bisa melek huruf.Â
Dari Ibu Euis, siapa pun bisa belajar. Untuk selalu bersyukur atas kondidi apa pun yang dihadapi. Sambil tetap berjuang untuk ikhtiar baik. Bukan justru menebar prasangka buruk dan pesimistis. Karena baik itu perbuatan, bukan pelajaran. Salam literasi #GeberBura #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H