Indonesia memiliki wilayah laut yang luas dan kaya, sehingga memiliki makna strategis sebagai pilar pembangunan ekonomi nasional. Betapa tidak, lokasi dari kepulauan Indonesia yang terletak diantara dua samudra serta dilalui oleh arus laut hangat dunia menyebabkan laut Indonesia ini kaya akan keanekaragaman hayati yang berpotensi untuk dimanfaatkan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2009, tingkat penyediaan ikan untuk konsumsi Indonesia adalah 30kg/kapita/tahun. Jumlah tersebut melampaui kebutuhan tingkat penyediaan ikan dunia yang sebesar 17,2 kg/kapita/tahun untuk ukuran 6,8 miliar penduduk dunia (KKP,2009), yang menunjukkan bahwa kekayaan laut Indonesia bernilai ekonomis untuk dikembangkan di pasar dunia.
Namun, berkah sumberdaya perikanan yang melimpah tersebut tidak dibarengi pula dengan pengelolaan sumberdaya perikanan yang matang pula. Hal ini dapat dilihat dari data wilayah pengelolaan perikanan di Indonesia, bahwa banyak wilayah perairan kita yang mengalami overfishing ataupun fully exploitedyang menunjukkan ancaman pada regenerasi jumlah komoditasnya. Sebagai contoh, komoditas udang di perairan Indonesia sudah ditingkat overfishing pada perairan selat malaka, laut flores, laut arafura, serta selat makassar (Komisi pengkajian stok ikan). Komoditas lain seperti ikan demersal ataupun pelagis juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan udang, yang menunjukkan sebuah pengelolaan yang buruk terhadap sumberdaya perikanan yang kaya.
Pada tingkat produksi sumberdaya perikanan, Indonesia juga jauh tertinggal. Perbandingan dengan negara adidaya asia seperti Tiongkok. Dengan luas perairan yang hanya 2.267.969 km2, mereka dapat menembus jumlah produksi sebesar 70.000.000 ton lebih untuk pasar dunia. Berbeda dengan Indonesia yang hanya dapat menembus jumlah 15.000.000 ton lebih dengan perairan pemanfaatannya yang seluas 6.159.032 km2 (Hutgalung, 2016). Sehingga dengan pemaparan fakta seperti ini, diperlukannya sebuah pengelolaan yang berkelanjutan untuk pengelolaan sumebrdaya perikanan di Indonesia.

Sato-Umimerupakan metode pengelolaan perikanan yang mengedepankan penjagaan kualitas sumberdaya alam sebagai tolok ukur peningkatan produksinya. Maksudnya adalah, dengan menjaga kualitas ekosistem sumberdaya perikanan seperti, ikan demersal, plagis besar, pelagis kecil, hingga udang-udangan, tetap terjaga dan terkendali, maka jumlah produksi perikanannya akan terus meningkat.
Sehingga, nelayan perikanan tangkap selain melakukan kegiatan penangkapan, juga melakukan kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan komoditas yang dipelihara. Sistem ini secara tidak langsung menjaga piramida makanan di suatu ekosistem dan mengendalikan jumlah populasinya. Dengan cara tidak mencemari ekosistem laut serta mencegah pengurangan jumlah populasi dari setiap ancaman yang ad.
Penerapan ini cocok untuk diterapkan di Indonesia, terutama di wilayah pengelolaan perikanan yang ada. Dengan penerapan metode ini, komoditas juga dapat diregenerasi dengan cepat, serta kekayaan alam Indonesia tidak hanya dilihat sebagai sumberdaya yang diambil semena-mena lagi, juga dijadikan sebagai sumebr yang sangat berharga.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI