Mohon tunggu...
Syamsuddin B. Usup
Syamsuddin B. Usup Mohon Tunggu... wiraswasta -

Kakek dari sebelas cucu tambah satu buyut. Berharap ikut serta membangun kembali rasa percaya diri masyarakat, membangun kembali pengertian saling memahami, saling percaya satu sama lain. Karena dengan cara itu kita membangun cinta kasih, membentuk keindahan hidup memaknai demokrasi.\r\n

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Politik: Sore Kedele Paginya Tempe

20 Mei 2014   15:10 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:20 322
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Ketika ARB dan seluruh kader Partai Golkar berkutat berjuang untuk eksis pada Pilpres 2014. Pak JK sebagai kader tidak ikut mendukungnya  Bahkan terasa aneh, paradoks atau mungkin tepatnya unik, Pak JK justeru mendukung PDI-P lawan politk Partai Golkar yang mengusung Joko Widodo. Hasilnya ARB gagal untuk ikut kontestasi Pilpres 9 Juli 2014. Kasian juga partai ini, kader seperti Pak JK yang mempunyai bobot elektabilitas tinggi justeru tidak mendukung ARB. Pak JK agaknya model tokoh Figur independen tulen.

Konsekuensi logis seorang kadar partai tentu akan mendukung kebijakan partainya, Itulah uniknya dinamika politik. Kata orang, politik itu “Sore kedele paginya tempe”.

Tetapi tidak aneh jika review ke Pilpres 2004. Ketika Ketua Umum Partai Golkar Ir. H. Akbar Tanjung ( 1999-2004 ) berjuang mempertahankan eksistensi Partai Golkar,  melaksanakan untuk pertama kalinya system konvensi partai untuk menentukan bakal Capres unggulan secara demokratis. Pak JK justeru memilih bergabung dengan SBY dari Partai Demokrat .

Selanjutnya ketika berhasil sebagai Wakil Presiden periode 2004-2009, beliau sukses merebut kursi Ketua Umum Partai Golkar periode 2005-2010. ARB adalah pendukung pemenangan Pak JK pada Munas Bali 2005 mengalahkan Akbar Tandjung, Surya Paloh, Wiranto atau Agung Laksono.

Selanjutnya Pak JK maju sebagai Capres Partai Golkar bersama Wiranto. Uniknya  JK-Wiranto hanya dapat dukungan 12% saja. Meskipun pada periode tersebut Partai Golkar punya modal  18% suara dengan 120 kursi di DPR. Mensin politik partai yang notabene Pak JK adalah Ketua Umum Partai Golkar nampaknya tidak berjalan dengan baik untuk mendukungnya.

Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono berhasil menjadi pemenang dalam satu putaran langsung dengan memperoleh suara 60,80%, mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto

Pada Pilpres 9 Juli 2014 nanti Pak JK maju mendampingi Joko Widodo alias Jokowi. Ketua Umum Partai Golkar Abu Rizal Bakri bahkan sudah menyatakan agar seluruh kader Partai Golkar ( jadi termasuk Pak JK kalau masih kader Partai Golkar ) untuk mendukung Pasangan kubu Indonesia Raya Prabowo Subianto – Hatta Rajasa.

Dengan adanya himbauan tersebut, mesin politik partai Golkar pasti tidak akan mendukung untuk kemenangan pasangan Jokowi-JK. Tetapi siapa yang tahu apa yang berlaku dibilik suara, sebagai kader Partai Golkar akan patuh terhadap himbauan Ketua umumnya, justeru Pak JK mencoblos pasangan lawannya. Kata orang “dalamnya laut dapat diduga, dalam hati seseorang siapa yang tahu”. Believe it’s  or not .

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun