Ketika ARB dan seluruh kader Partai Golkar berkutat berjuang untuk eksis pada Pilpres 2014. Pak JK sebagai kader tidak ikut mendukungnya Bahkan terasa aneh, paradoks atau mungkin tepatnya unik, Pak JK justeru mendukung PDI-P lawan politk Partai Golkar yang mengusung Joko Widodo. Hasilnya ARB gagal untuk ikut kontestasi Pilpres 9 Juli 2014. Kasian juga partai ini, kader seperti Pak JK yang mempunyai bobot elektabilitas tinggi justeru tidak mendukung ARB. Pak JK agaknya model tokoh Figur independen tulen.
Konsekuensi logis seorang kadar partai tentu akan mendukung kebijakan partainya, Itulah uniknya dinamika politik. Kata orang, politik itu “Sore kedele paginya tempe”.
Tetapi tidak aneh jika review ke Pilpres 2004. Ketika Ketua Umum Partai Golkar Ir. H. Akbar Tanjung ( 1999-2004 ) berjuang mempertahankan eksistensi Partai Golkar, melaksanakan untuk pertama kalinya system konvensi partai untuk menentukan bakal Capres unggulan secara demokratis. Pak JK justeru memilih bergabung dengan SBY dari Partai Demokrat .
Selanjutnya ketika berhasil sebagai Wakil Presiden periode 2004-2009, beliau sukses merebut kursi Ketua Umum Partai Golkar periode 2005-2010. ARB adalah pendukung pemenangan Pak JK pada Munas Bali 2005 mengalahkan Akbar Tandjung, Surya Paloh, Wiranto atau Agung Laksono.
Selanjutnya Pak JK maju sebagai Capres Partai Golkar bersama Wiranto. Uniknya JK-Wiranto hanya dapat dukungan 12% saja. Meskipun pada periode tersebut Partai Golkar punya modal 18% suara dengan 120 kursi di DPR. Mensin politik partai yang notabene Pak JK adalah Ketua Umum Partai Golkar nampaknya tidak berjalan dengan baik untuk mendukungnya.
Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono berhasil menjadi pemenang dalam satu putaran langsung dengan memperoleh suara 60,80%, mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto
Pada Pilpres 9 Juli 2014 nanti Pak JK maju mendampingi Joko Widodo alias Jokowi. Ketua Umum Partai Golkar Abu Rizal Bakri bahkan sudah menyatakan agar seluruh kader Partai Golkar ( jadi termasuk Pak JK kalau masih kader Partai Golkar ) untuk mendukung Pasangan kubu Indonesia Raya Prabowo Subianto – Hatta Rajasa.
Dengan adanya himbauan tersebut, mesin politik partai Golkar pasti tidak akan mendukung untuk kemenangan pasangan Jokowi-JK. Tetapi siapa yang tahu apa yang berlaku dibilik suara, sebagai kader Partai Golkar akan patuh terhadap himbauan Ketua umumnya, justeru Pak JK mencoblos pasangan lawannya. Kata orang “dalamnya laut dapat diduga, dalam hati seseorang siapa yang tahu”. Believe it’s or not .
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI