Mohon tunggu...
Syaiful Anwar
Syaiful Anwar Mohon Tunggu... Dosen - Dosen FEB Universitas Andalas Kampus Payakumbuh

Cara asik belajar ilmu ekonomi www.unand.ac.id - www.eb.unand.ac.id https://bio.link/institutquran

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Swasembada Industri Pertahanan (13): Blockchain untuk Supply Chain

4 November 2024   09:57 Diperbarui: 4 November 2024   09:57 35
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Birokrasi. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi blockchain semakin banyak menarik perhatian sebagai solusi yang tidak hanya terbatas pada sektor keuangan, tetapi juga untuk berbagai sektor strategis, termasuk pertahanan. Bagi Indonesia, pemanfaatan blockchain dalam rantai pasok industri pertahanan menawarkan peluang besar untuk memperkuat transparansi, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi risiko keamanan yang dihadapi dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan komponen pendukung lainnya.

Sebagai negara yang tengah membangun kemandirian pertahanan, Indonesia memerlukan sistem rantai pasok yang lebih kuat, terlindungi, dan efisien. Namun, rantai pasok industri pertahanan seringkali kompleks dan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemasok bahan baku hingga produsen komponen teknologi tinggi. Blockchain, dengan karakteristiknya yang desentralisasi, transparan, dan aman, berpotensi besar untuk mendukung transformasi rantai pasok ini.

Mengapa Blockchain Relevan untuk Rantai Pasok Industri Pertahanan?

Blockchain adalah teknologi pencatatan yang memungkinkan data tersimpan dalam bentuk rantai blok yang saling terkait dan dienkripsi, sehingga sulit untuk dimodifikasi tanpa persetujuan dari jaringan. Dalam industri pertahanan, teknologi ini dapat mengatasi berbagai tantangan seperti transparansi, validasi data, serta keamanan informasi yang sensitif. Blockchain menyediakan mekanisme pengawasan yang lebih kuat karena setiap transaksi atau perubahan data tercatat dan tidak dapat dihapus atau diubah tanpa rekam jejak yang jelas.

  1. Transparansi dan Akuntabilitas
    Salah satu tantangan terbesar dalam rantai pasok industri pertahanan adalah masalah transparansi dan akuntabilitas. Dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan, dari pemasok material hingga produsen akhir, sering kali sulit untuk memastikan bahwa semua proses dilakukan sesuai dengan standar keamanan dan regulasi. Blockchain memberikan catatan yang transparan dan dapat diaudit, memungkinkan pemantauan seluruh proses secara real-time oleh pihak yang berwenang. Semua informasi terkait aliran material, produksi, dan distribusi dapat diakses oleh pihak yang berizin, sehingga mengurangi potensi fraud dan korupsi.
  2. Keamanan Data dan Perlindungan Informasi
    Industri pertahanan memiliki data yang sangat sensitif dan berpotensi menimbulkan ancaman keamanan nasional jika jatuh ke tangan yang salah. Blockchain menawarkan keamanan yang lebih tinggi melalui enkripsi dan desentralisasi data. Setiap transaksi yang dicatat dalam jaringan blockchain dilindungi dengan kriptografi tingkat tinggi, sehingga mencegah akses tanpa izin atau modifikasi data oleh pihak luar. Hal ini sangat penting dalam mengamankan informasi terkait produksi dan distribusi alutsista yang strategis.
  3. Efisiensi Proses dan Pengurangan Biaya
    Selain keamanan dan transparansi, blockchain juga mampu meningkatkan efisiensi proses di rantai pasok. Dengan mengotomatisasi proses verifikasi melalui smart contracts, blockchain dapat menghilangkan kebutuhan akan perantara, mengurangi waktu proses, serta menghemat biaya operasional. Di industri pertahanan, pengurangan biaya ini menjadi krusial mengingat tingginya biaya pengadaan dan produksi. Smart contracts memungkinkan validasi otomatis saat kriteria tertentu terpenuhi, misalnya ketika komponen telah tiba di fasilitas produksi atau ketika produk telah melewati standar kualitas tertentu.

Implementasi Teknologi Blockchain dalam Industri Pertahanan

Implementasi blockchain dalam rantai pasok industri pertahanan tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan melalui perencanaan bertahap yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Berikut adalah beberapa langkah strategis yang dapat diambil untuk mengadopsi blockchain dalam rantai pasok pertahanan nasional:

  1. Audit dan Pemetaan Rantai Pasok
    Langkah awal dalam implementasi blockchain adalah melakukan audit dan pemetaan rantai pasok yang ada. Pemetaan ini penting untuk mengidentifikasi tahapan-tahapan proses yang paling rentan terhadap risiko, baik dari sisi keamanan maupun efisiensi. Dalam konteks industri pertahanan, setiap tahapan harus dianalisis, mulai dari pemasok bahan baku, produksi, hingga distribusi alutsista.
  2. Pengembangan Sistem Blockchain Khusus Pertahanan
    Blockchain yang digunakan dalam industri pertahanan harus disesuaikan dengan kebutuhan spesifik, misalnya melalui jaringan blockchain izin (permissioned blockchain). Jaringan ini memungkinkan otoritas tertentu untuk mengontrol akses ke data dan transaksi, memastikan bahwa hanya pihak-pihak yang diizinkan yang dapat melihat atau mengubah informasi. Implementasi jaringan blockchain izin dapat meningkatkan keamanan data, mengingat sensitifnya informasi pertahanan.
  3. Penerapan Smart Contracts untuk Otomatisasi
    Salah satu keunggulan blockchain adalah kemampuannya untuk menggunakan smart contracts. Dalam konteks rantai pasok pertahanan, smart contracts dapat diterapkan untuk mengotomatiskan transaksi tertentu, seperti validasi pengiriman komponen atau pembayaran setelah suatu tahap produksi selesai. Hal ini mengurangi risiko kesalahan manual, menghemat waktu, dan memastikan kepatuhan terhadap standar yang berlaku.
  4. Kolaborasi dengan Mitra Teknologi dan Industri
    Mengembangkan blockchain dalam skala industri pertahanan memerlukan dukungan dari mitra teknologi serta perusahaan penyedia komponen. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa teknologi yang diterapkan mampu memenuhi standar industri dan kompatibel dengan sistem yang sudah ada. Pemerintah dapat mendorong kolaborasi antara perusahaan pertahanan domestik seperti PT Pindad dan PT DI dengan penyedia teknologi blockchain guna mengoptimalkan integrasi.

Tantangan dalam Implementasi Blockchain untuk Rantai Pasok Pertahanan

Meskipun blockchain menawarkan solusi yang sangat potensial, implementasinya dalam rantai pasok pertahanan nasional juga menghadapi tantangan yang tidak sedikit.

  1. Regulasi dan Kebijakan Pemerintah
    Kebijakan yang jelas sangat penting dalam mendukung penggunaan blockchain di sektor pertahanan. Saat ini, regulasi mengenai penggunaan blockchain di sektor strategis masih terbatas. Pemerintah perlu mengeluarkan panduan yang jelas untuk mengatur penggunaan blockchain dalam industri pertahanan, termasuk standar keamanan, ketentuan akses data, dan kriteria validasi.
  2. Kebutuhan Infrastruktur Teknologi yang Memadai
    Blockchain membutuhkan infrastruktur teknologi yang kuat, terutama dari sisi komputasi dan jaringan. Untuk mengimplementasikan sistem blockchain yang aman dan andal, diperlukan investasi besar pada perangkat keras serta perangkat lunak khusus. Di Indonesia, ketersediaan infrastruktur ini masih menjadi tantangan, terutama di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.
  3. Resistensi terhadap Perubahan dan Kesiapan Sumber Daya Manusia
    Implementasi teknologi baru seperti blockchain sering kali dihadapkan pada resistensi dari pihak yang telah terbiasa dengan sistem lama. Di industri pertahanan, yang kerap dianggap konservatif dalam mengadopsi inovasi, resistensi ini bisa menjadi tantangan. Selain itu, penggunaan blockchain membutuhkan keahlian khusus, sehingga pelatihan sumber daya manusia untuk memahami dan mengoperasikan teknologi ini menjadi krusial.
  4. Risiko Keamanan Siber
    Meskipun blockchain dikenal aman, risiko serangan siber tetap ada. Sistem blockchain dalam rantai pasok pertahanan harus dilengkapi dengan lapisan keamanan tambahan, seperti sistem deteksi intrusi dan enkripsi tambahan. Serangan siber yang berhasil menembus jaringan blockchain pertahanan dapat mengakibatkan kebocoran data strategis, yang pada akhirnya merugikan keamanan nasional.

Potensi Masa Depan Blockchain dalam Industri Pertahanan Indonesia

Meskipun terdapat berbagai tantangan, implementasi blockchain dalam rantai pasok industri pertahanan membuka potensi yang signifikan bagi Indonesia. Dengan jaringan blockchain yang terintegrasi, rantai pasok dapat beroperasi dengan lebih efisien, lebih aman, dan transparan. Dalam jangka panjang, hal ini juga akan meningkatkan daya saing industri pertahanan domestik serta mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.

Blockchain juga memiliki potensi untuk mendukung strategi pertahanan siber Indonesia. Di era digital saat ini, perang bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga melibatkan serangan digital yang dapat melumpuhkan sistem informasi suatu negara. Blockchain, dengan enkripsi dan sistem desentralisasi, menawarkan lapisan keamanan tambahan dalam melindungi data strategis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun