Hari #18: Bazar yang Mengubah Hati
Maulana terbangun dengan tubuh yang lebih ringan, meski pikirannya masih dipenuhi pelajaran dari Zaki tentang keikhlasan. Setelah shalat Subuh dan membaca Al-Qur'an, ia menulis di buku hariannya:
"Sering kali kita menilai sesuatu dengan tergesa-gesa, padahal Allah lebih tahu hikmah di baliknya."
Saat berangkat ke kantor, ia melihat jalan utama yang biasanya lengang kini ramai. Beberapa orang sibuk memasang tenda dan menata meja. Bau plastik terbakar dari kabel yang disambung tampak samar di udara pagi.
"Sepertinya akan ada bazar," batinnya. Namun, alih-alih merasa senang, ia justru mendesah pelan. "Kenapa harus di sini? Jalanan jadi sempit."
Kenangan beberapa tahun lalu melintas di benaknya. Ia pernah terjebak di tengah keramaian serupa saat hendak menolong ibunya yang sakit. Karena jalan terhalang pedagang kaki lima, ia terlambat membawa ibunya ke dokter. Meski Allah sudah menakdirkan ajal ibunya, rasa sesak itu masih tersisa. Sejak itu, ia selalu merasa geram jika ada pedagang yang menghambat akses jalan.
---
Di kantor, pikirannya terusik. Bayangan macet, suara klakson bersahutan, dan orang-orang berdesakan terus membayanginya.
Saat jam makan siang, ia membuka grup WhatsApp warga dan menemukan beberapa pesan keluhan.
"Kalau begini, warga yang kerja jadi susah keluar masuk kompleks."