Tiga anak, A, B, dan C, sedang berdebat dan mengutarakan cita-citanya masing-masing.
A menyatakan ingin menjadi seorang petani hebat, dia akan menghasilkan pisang sebesar Tugu Monas.
B tidak mau kalah, dia akan menjadi pengusaha alat-alat dapur.
A dan C menertawakan bahwa itu profesi yang rendah.
Tetapi B berusaha meyakinankan bahwa dia akan membuat wajan penggorengan sebesar stadion Jakarta International Stadium (JIS).
A dan C kaget, buat apa kau buat wajan sebesar itu B?, B menjawab untuk membuat pisang goreng dari pisang A yang sebesar Tugu Monas tadi.
C tidak mau kalah, tapi kira-kira C mau jadi apa dan apa yang akan dikerjakan untuk menyaingi A dan B?
Baca juga: Gelandangan Partai PolitikC tersenyum tipis dan dengan percaya diri berkata, "Kalau begitu, aku akan menjadi ahli es krim terkenal di seluruh dunia! Aku akan membuat es krim rasa pisang dengan cone es krim sebesar Menara Eiffel."
***
Ketika kita pertama kali mendengar kisah tiga anak pembual - A, B, dan C di atas, mungkin yang pertama kali muncul dalam benak kita adalah tawa. Bagaimana mungkin ada pisang sebesar Tugu Monas, wajan seukuran Jakarta International Stadium (JIS), atau bahkan cone es krim sebesar Menara Eiffel? Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada hikmah filosofis yang dapat ditarik dari kisah lucu ini. Cerita ini, meskipun muncul sebagai bualan anak-anak, sebenarnya menjadi representasi dari realitas pahit yang sering kali kita jumpai dalam kehidupan politik modern.