Mohon tunggu...
Syafitri Rahmania Ulfah
Syafitri Rahmania Ulfah Mohon Tunggu... -

Mahasiswa psikologi UIN MALANG angkatan 2012 berasal dari kab.malang-kec.ngantang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Angka Itu Seperti Hantu!

26 Desember 2014   03:36 Diperbarui: 17 Juni 2015   14:27 32
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Dalam keheningan malam ini, seorang gadis kecil yang pendiam itu dan ia bertempat tinggal ini tak di dalam desa nan damai yaitu desa Agung Makmur. Sebut saja Mawar nama gadis itu. Mawar merupakan salah satu siswa yang rajin disekolahnya , ia sekarang duduk dibangku SMA dan duduk di kelas XI IPS1. Mawar merupakan anak yang sederhana dan dari keluarga yang sederhana. Ia tinggal didesa, tetapi dengan keterampilan dan kerajinanny, ia dapat diterima disekolah Favorite di kota Panama, yaitu kota yang terkenal dengan pelajar pilihan disetiapa sekolahnya.

Mawar mulai bekerja keras mulai saat ia duduk di Sekolah Dasar ia berharapa dapat tempat yang baik di dalam sekolah favorite dan dikota, kesempatan yang ia peroleh pun baru ia miliki ketika ia duduk dibangku SMA. Dengan kecerdasan yang ia asah mulai sekolah dasar, ia mampu menjadi juara tetap disekolahnya dan selalu menjadi bintang kelas mulai ia SD,SMP dan SMA.

Mawar sering mengikuti olimpiade mulai ia duduk di bangku SMP, dan dengan beberapa kemampuannya ia sekarang duduk di sekolah Favorite di kota Panama. Nilai yang selalu perfek di rapotnya ini selalu membuat bangga kedua orang tuanya, tapi tak disadari dengan kecerdasan dan kepintarannya ternyata Mawar mempunyai kepribadian ganda dalam dirinya, saat ia mulai semangat maka kepribadian yang baik itu pun muncul untuk memotivasinya, tapi kalau ketika suatu masalah muncul dalam dirinya, maka kepribadian yang selalu menuntut egonya pun juga muncul dan menyuruh mawar untuk menganiaya dirinya sendiri.

Kepribadian inilah yang membuat Mawar selalu dalam rasa cemas, resah dan tidak bisa tenang karena kepribadiannya yang buruk sering muncul dari dirinya. Sekarang mawar duduk dibangku kelas XI dan ia akan memasuki semester genap dalam bangku pendidikannya. Karena akhir semester ia sudah berusaha keras untuk mencapai hasil yang memuaskan dalam belajarnya maka, ia tak sabar menanti nilai raportnya keluar.

Dengan teknologi canggih dan sekolah yang modern maka sistem rapor sekolahpun bisa dinikmati dengn sistem on line. Dan harus mengambil raport yang asli ketika mulai masuk dalam semester berikutnya. Mawarpun tak sabar ingin melihat hasilnya, dalam salahsatu mata pelajaran yang ia sangat sukai ia berharap bahwa akan diberikan yang terbaik, dan akhirnya pun nilainya agak meleset dengan perkiraannya. Hanya selisih beberapa angka. Lalu dengan angka dan nma mata pelajaran Maematikanya itu, membuat hatinya merasa resah. Karena perkiraan mawar ia mampu mengerjakan dan akan mendapat nilai 90, ternyata mawar hanya bisa mendapatkan nilai 70. Karena pada saat ujian mawa

Angka yang tak sesuai harapan itu selalu membuat mawar kefikiran dan memunculkan kepribadiannya yang buruk dimana dalam fikiran dan bayangannya ia merasa selalu dihantui dengan angka-angka dan rumus-rumus yang ia hafalkan. Ia pun merasa bahwa dirinya bodoh, dan goblok. Sampai-sampai kesehatan Mawarpun mulai terganggu dan ia pun jatuh sakit hanya dengan nilai yang tidak sesuai dengan targetnya.

Tiba-tiba orang tua Mawar mulai kaget dan mencoba membujuk sang anak untuk memberikan keterangan atas masalah yang dihadapinya. Mawarpun tidak mau menceritakan karena ia merasa bahwa ia bersalah dan tidak bisa membahagiakan orang tuanya. Mawar pun mengurung dirinya didalam kamar dan tidak mau keluar. Ia merasa bahwa kesalahannya ini tidak bisa diampuni “menurut kepribadiannya yang buruk”. Dan orang tua Mawar berusaha untuk mencari penyebab masalah yang dialami Mawar.

Akhirnya orang tua Mawar pun tahu dan mencoba membujuk Mawar untuk keluar dari kamar serta membawa Mawar ke Dokter dan memberi pengertian mawar, bahwa nilai itu sangatlah penting dan yang bisa lebi penting lagi adalah kesehatan. Serta kesadaran dalam menghadapi masalah yang dialaminya.

Akankah Mawar masih menganggap bahwa nilai matematikanya itu bagai hantu yang selalu menekannya untuk berusaha perfek dalam mendapatkan nilai mata pelajarang yang disenanginya?Dan apakah Kepribadian Mawar ini akan selalu menghasudnya dan Mawar tak bisa mengendalikannya? Dan apakah Mawar kan berusaha untuk menerima dengan lapang dada? Dan bisa sadar akan kepribadiannya??

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun