Pada sebuah hutan belantara yang lebat, lewatlah seekor anak kambing yang ceria. Karena masih kecil, ia senang bermain-main. Naik turun bukit, berputar-putar dan berlari ke sana kemari. Ia tidak pernah memikirkan jalan tersingkat untuk keluar dari hutan belantara.
Jalan yang dirintis oleh anak kambing ini lalu diikuti oleh seekor anjing yang selalu mengendus bau anak kambing ini dan memberi tanda dengan air kencingnya di sepanjang perjalanan.
Berikutnya serombongan kijang juga mengikuti jalan yang telah dirintis oleh anak kambing dan anjing guna melewati hutan belantara itu.
Akhirnya banyak hewan yang ikut melintasi jalan rintisan itu. Bahkan akhirnya manusia juga ikut-ikutan melintasi jalan rintisan itu. Bahkan ketika modernisasi telah berkembang dibuatlah jalan raya berdasar jalan rintisan tersebut.
Karena sudah menjadi kebiasaan, akhirnya orang lupa mencari jalan alternatif yang lebih pendek dan lebih cepat. Bahkan hingga saat makin banyak manusia yang harus menuju kota dari sebuah desa maka jalan itu bertambah ramai dan macet.
Efek bandwagon adalah sebuah istilah psikologi yang menggambarkan gerbong kereta api yang pasti akan mengikuti kepala kereta yang mengarahkannya.
Kata bandwagon sendiri memiliki sejarah sebuah kereta yang ada band-nya sehingga banyak orang yang mengikuti kemana saja bandwagon ini menuju dan menjadi sebuah parade atau arak-arakan yang ramai.Â
Biasanya pada kereta tersebut banyak atraksi yang menarik, seperti gadis-gadis cantik berbusana seksi dan pandai menari serta diiringi bunyi band yang menarik. Sehingga akhirnya terbentuklah suatu kerumunan atas keramaian ini. Agar menarik lebih banyak orang untuk mengikutinya, acap kali pemilik kereta membagikan minuman kepada orang yang mengikutinya.
Dalam kehidupan politik atau bisnis, akhirnya orang menerapkan efek bandwagon untuk memanipulasi atau mempengaruhi orang sehingga dapat dieksploitasi untuk  tujuan tertentu.
Itulah sebabnya kita harus senantiasa kritis, agar tidak dimanfaatkan orang yang nenerapkan efek bandwagon, seperti misalnya ikut-ikutan menyebarkan berita hoaks tanpa mengkaji kebenarannya terlebih dulu.
Sebagai manusia yang memiliki nalar berpikir kritis hendaknya Anda harus mampu mengkaji sesuatu sebelum mempercayainya.