Mohon tunggu...
Sutan Hartanto
Sutan Hartanto Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Seorang pendidik yang belajar menulis. Pemilik dan pengelola situs : http://www.kisah-cinta.com Pendiri dan pengembang situs sekolah: http://www.pelangi-indonesia.net

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Artikel Utama

Tegak di Antara Puing-Puing (6)

3 April 2015   17:49 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:35 25
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Ya, untuk pekerjaan seperti itu, sepeda memang sempurna. Hampir sempurna tepatnya, karena ada juga kekurangannya. Jarak dari rumah ke kantor maupun wilayah kerjanya cukup jauh untuk ditempuh dengan sepeda. Darma butuh waktu 1,5  jam lebih untuk sampai ke kantor, dan setengah jam untuk mencapai wilayah kerjanya. Ia rugi waktu, rugi tenaga juga. Jika ini berlangsung bertahun-tahun, badannya bisa aus sebelum waktunya.

Karena itulah, Darma beralih ke sepeda listrik. Ini juga sekedar hampir sempurna, meski jauh lebih baik daripada sepeda kayuh. Dengan kendaraan ini dia bisa lebih cepat sampai ke kantor dan lokasi kerja, juga tidak menguras terlalu banyak tenaga. Menurut buku manualnya, sepeda ini bisa menempuh jarak 60 km sekali charge. Tapi kenyataannya bahkan lebih jauh dari itu. Untuk pulang pergi ke kantor serta rute baca meter di wilayahnya butuh setidaknya 80 kilometer. Dan sampai di rumah, sepeda itu belum kehabisan daya listrik juga, ditandai dengan masih menyalanya lampu LED di panel dayanya. Setidaknya dua dari empat lampu masih menyala saat Darma sampai di rumah. Tidak mengecewakan.

Darma membeli sepeda itu seharga 4 juta rupiah. Tidak dengan uangnya sendiri, tapi dengan uang pinjaman dari Tiur yang dermawan itu. Tanpa bunga, tentu saja. Ia membayarnya dengan cara mencicil tiap bulan, diambil dari gajinya.

Hmm, tak terasa Darma sudah sampai di Jalan Malioboro. Berarti sudah seperempat jalan dari rumahnya di Gilangsari, suatu kampung di perbatasan antara Sleman dengan Jogjakarta. Hari itu rencananya Darma mau langsung menuju lokasi baca meter di Sewon Bantul. Terlalu jauh dan membuang waktu jika ia harus mampir ke kantor dulu. Lagipula, dia tidak wajib melakukannya.

Di sepanjang jalan yang ditempuhnya tadi, kesibukan lalu lintas berlangsung seperti biasa. Tidak terasa perubahan yang berarti akibat gempa pagi tadi. Bus kota, mobil pribadi, motor, sepeda, becak, delman tetap berjalan dengan kecepatan normal masing-masing, selain beberapa motor dan mobil yang agak ngebut karena berbagai alasan. Mengejar waktu untuk mengisi absen di kantor, berebut pagi dengan kompetitornya untuk membuka warung atau lapaknya, atau sekedar ingin lebih cepat sampai ke tujuan.

Darma juga sempat sekilas mengamati gedung-gedung di pinggir jalan yang dilewatinya. Toko-toko, hotel, kantor, bank, bangunan lainnya. Tidak terlihat kerusakan yang mencemaskan.

Tapi sampai di Malioboro Mall yang waktu itu masih merupakan salah satu mall terbesar di kota ini, suasana sedikit berbeda. Terlihat orang-orang bergerombol di sebelah selatan gedung, mengamati dinding selatan bangunan itu. Darma tertarik dan menghentikan sepeda listriknya. Tanpa turun dari sepeda, ia mengamati dinding yang agaknya menarik perhatian orang-orang itu. Dan hatinya pun berdesir. Terlihat retakan besar di dinding itu, memanjang dari puncak bangunan sampai hampir setengah ketinggian gedung enam lantai itu.

(bersambung)

Cerita ini fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, hanyalah kebetulan belaka dan bukan merupakan kesengajaan.

© Sutan Hartanto

Hak cipta dilindungi undang-undang. All Rights Reserved

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun