Sudah bukan rahasia lagi jika selama ini saat berbuka kita semua dianjurkan untuk mulai makan dengan yang manis-manis. Kalau saya amati anjuran ini justru datang dari media seperti iklan di TV atau medsos karena jika merujuk ajaran Islam sendiri (hadist misalnya) tidak ada anjuran kuat seperti itu. Dulu Rasulullah berbuka dengan mengkonsumsi kurma basah atau kalau tidak ada dengan kurma kering dan diikuti dengan minum air putih (sumber).Â
Kurma basah atau kering memang berasa manis. Dugaan saya inilah yang kemudian membuat banyak muslim menganalogikan bahwa berbuka bisa dengan apapun yang penting berupa makanan atau minuman manis padahal ragam makanan atau minuman manis sangat banyak seperti sirup, teh, kopi, kue-kue, kolak, es buah, dll.
Persoalannya kemudian adalah apakah semua makanan dan minuman manis itu sama saja (toh rasanya sama-sama manisnya di lidah)? Biasanya rasa manis yang ditambahkan ke dalam makanan atau minuman berasal dari gula pasir.Â
Gula pasir atau gula tebu atau sukrosa (disakarida) berupa gabungan molekul glukosa dan fruktosa sementara itu kurma merupakan buah-buahan yang mengandung gula buah (fruktosa).
 Kalau belajar Kimia karbon maka ada tiga jenis sakarida atau karbohidrat yaitu monosakarida (glukosa, fruktosa, maltosa), disakarida (sukrosa, laktosa, galaktosa), dan polisakarida (amilum, selulosa, glikogen). Tubuh manusia memerlukan karbohidrat-karbohidrat ini sebagai sumber energi untuk melakukan berbagai aktivitasnya. Oleh karena itu karbohidrat menempati sebagian besar porsi harian menu makanan kita.Â
Di dalam tubuh nantinya semua karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh akan diubah oleh enzim pencernaan menjadi glukosa yang mengalir bersama darah. Tiap-tiap sel akan mengambil glukosa ini sebagai bahan bakar bersama oksigen. Jadi walaupun sama-sama manis rasanya ternyata struktur kimia masing-masing gula tidaklah selalu sama dan selanjutnya akan dapat mempengaruhi metabolisme tubuh.
Logika saya saat jelang maghrib kadar glukosa dalam tubuh akan berada pada tingkat terendah sehingga memang perlu konsumsi makanan yang bisa segera diubah menjadi glukosa dengan cepat.Â
Makanan seperti kurma atau lainnya yang manis (monosakarida atau disakarida) sangat ideal untuk merecharge energi tubuh segera karena bisa langsung diserap oleh tubuh.Â
Malah kalau langsung diberikan nasi (polisakarida) maka tubuh harus menunggu agak lama untuk menerima pasokan glukosa. Padahal untuk mencerna nasi juga masih membutuhkan energi sementara tubuh sedang berada pada kondisi minim persediaan energi. Hanya saja tentu ada satu poin yang tidak boleh diabaikan jika mengkonsumsi makanan atau minuman manis ini yaitu jangan terlalu banyak.Â
Jika terlalu banyak maka kadar glukosa dalam darah akan naik sangat cepat dan ini malah akan menyebabkan tubuh kemudian menjadi lemas dan mengantuk. Gejalanya seperti penderita Diabetes yang kadar glukosanya sedang meninggi. Puasa akhirnya bukan menjadikan tubuh lebih sehat tetapi malah seperti sedang membangun bibit-bibit Diabetes di masa depan. Â
Jadi bagi saya tidak ada masalah bagi siapapun jika ingin berbuka dengan apapun yang manis. Saya sendiri juga setiap berbuka selalu makan atau minum yang manis dengan sebuah catatan penting yaitu tidak boleh terlalu banyak. Jadi self control sangat dibutuhkan di sini. Kata-kata "tidak boleh terlalu banyak" ini memang bersifat kualitatif yang tak ada ukuran eksak-nya.Â
Kalau tiga butir kurma atau segelas es cendol bagi saya sudah cukup, mungkin bagi anda itu terlalu banyak atau justru kurang sekali. Respon tubuh anda sendiri yang bisa menentukannya karena pada dasarnya setiap tubuh manusia itu unik (jenis kelamin, berat badan, aktivitas harian, usia, dll).Â
Entah itu iklan atau bukan, intinya selama itu dapat membuat hidup lebih sehat, apa salahnya jika dicoba? O ya untuk kurma sebaiknya pilih buah kurma asli dan bukan kurma yang sudah diawetkan berbentuk manisan. Â Â Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI