Pada sisi lain, papaku terkadang terlihat di pojok ruangan sedang duduk sendiri. Tidak sedang membaca. Tidak pula sedang menyaksikan siaran televisi. Suatu ketika aku beranikan diri untuk menyampaikan pendapatku.
"Papa harus menikah lagi!" tuturku dengan santun.
Ia menoleh perlahan. Tangannya memberi isyarat agar aku mendekat. Perlahan aku melangkah. Khawatir papa marah.
"Ibumu baru satu tahun meninggal. Pantaskah aku secepat itu akan mencari pengganti ibumu?" tanya papa terputus-putus kalimatnya.
"Aku tidak ingin papa selalu menyendiri. Papa harus ada yang menemani!"
Dua bulan sejak terjadi percakapan di malam itu, papaku menikah dengan seorang gadis yang usianya delapan tahun lebih muda daripada usia papa. Aku sangat gembira menyambut ibu tiri.
Selisih usianya denganku sekitar lima tahun. Cocoknya aku memanggil kakak kepadanya. Mbak Lilis ikut senang. Ia diberi tugas oleh papa untuk mengajari istri papa yang baru dalam urusan masak-memasak.
Seperti halnya papaku, mama baruku juga berlaku baik terhadapku. Ia termasuk wanita modern yang memahami perubahan status seseorang. Kondisiku yang yatim piatu membuatnya sangat sayang terhadapku.
Aku selalu diingatkan untuk berhati-hati dalam bergaul. Dunia kampus berbeda dengan dunia SMA. Memilih teman dan tempat nongkrong harus selektif. Tidak boleh sembarangan.
Kasak-kusuk tetangga terdengar lagi. Aku didorong-dorong untuk mengusir papa dan mama tiriku. Aku disuruh mandiri. Tidak baik katanya menikmati harta warisan orang tua kandung bercampur dengan harta orang tua tiri.
Segala kasak-kusuk tidak kutanggapi. Mama baruku yang tidak sengaja mendengar omongan seperti itu tidak mau ambil pusing. Urusan keluarga sendiri, kita yang menentukan sendiri. Asal sesuai syariat agama dan norma masyarakat, tidak perlu takut dengan omongan yang di luar jalur.