Bismillah,
Istri penulis menyatakan keinginannya untuk beridul fitri di Makkah Almukaramah Kerajaan Saudi Arabiah pada awal ramadhan 1445 H bulan Maret 2024. Penulis hanya terdiam karena tidak punya uang yang cukup itu. Istri menyatakan vahwa dia punya uang untuk itu. Dia hanya minta persetujuan saja apakah penulis bersedia. Agak lama juga baru penulis menjawab. Yang jelas Makkah sejak tahun lalu tepatnya bulan Zulhijjah 1444 H telah menjadi kampung ibu penulis karena ibu penulis meninggal  di kota itu pada 25 Juni 2023 atau bertepatan dengan 6 Zulhijjah 1444 H.
Bertandang ke Madinah
Sebelum ke Mekkah penulis dan rombongan bertandang terlebih dahulu ke Madinah. Pesawat yang ditumpangi adalah Lion air line yang sengaja dicarter oleh Zafa Tour. Â Penerbangan yang berlangsung 9.30 menit dari Palembang Sumatera Selatan Indonesia itu alhamdulillah berjalan lancar dan selamat meski berat karena terbang dalam keadaan puasa. Berkah yakin dan mendapat pertolongan Allah penulis, istri dan rombongan bisa melewati masa sulit itu dengan selamat.
Penulis dan rombongan diberi makan 2 kali dalam pesawat yakni 1 jam setelah tak off dan 2 jam menjelang landing. Di Madinah penulis tiba sore bari jelang berbuka puasa yakni pukul 18.37 WSA. Tiba diairport Madinah penulis penulis sedang anti di imigrasi. Alhamdulillah ada minuman dan makanan yang dihildangkan sewaktu dalam pesawat. Penulis bersiap menuju hotel dan makan malam di airport.
Berangkat ke Mekkah
Di Madinah hanya beberapa kali solat di masjid karena fokus kami akan dipusatkan di kota Mekkah meliputi  umroh, solat, thawab  dan membaca alquran serta qiyamul lail plus umroh ulangan. Kali ini masjidil haram sangat padat. Di luar dan di dalam masjid jutaan jemaah dari seluruh dunia memamerkan masjid terbesar di dunia itu.
Mekkah sudah menjadi kampung ibu
Bagi penulis dan keluarga, Mekkah sudah menjadi kampung ibu. Mengapa? Karena ibu dimakamkan di perkebunan malam yang berjarak sekitar 3 km dari masjidil haram. Jika ada umur penulis dan keluarga akan menjadikan Makkah sebagai destinasi wisata religi untuk mendoakan ibu. Karena setiap lima waktu selalu saja solat jenazah. Pada takbir ketiga setiap solat jenazah penulis selalu syahdu mendoakan ibu, ayah, kakek, nenek, mertua, abang ipar, adik ipar, ayuk ipar dan semua keluarga bahkan guru-guru penulis.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI