Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Konsultan - Pengamat
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Untuk apa sembuhkan luka, bila hanya tuk cipta luka baru? (Supartono JW.15092016) supartonojw@yahoo.co.id instagram @supartono_jw @ssbsukmajayadepok twiter @supartono jw

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Hasil Tahap 1 Timnas U-16 Masih Selevel Tim LKG dan Sister City DKI

26 Mei 2019   11:16 Diperbarui: 26 Mei 2019   11:20 514
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Setelah Timnas U-16 menjalani pemusatan latihan tahap pertama sejak 13 Mei 2019, akhirnya ditutup dengan uji coba meladeni dua tim sekaligus pada Sabtu malam (25/5/2019) di Stadion Pajajaran Kota Bogor.

Timnas U-16 yang diampu Bima Sakti, sebelumnya telah mengumpulkan 45 pemain terbaik Indonesia versi PSSI, untuk jalani pemusatan latihan (TC) di National Youth Training Center (NYTC), Sawangan, Depok. 13-25 Mei 2019.

Menyangkut Timnas U-16 yang sebelumnya dinakodai Fakhri Husaini dan menorehkan prestasi cukup mengilap atas kerja keras dan tangan dinginnya, maka publik sepakbola nasional sangat berharap agar Bima yang masih belum cukup pengalaman dapat menorehkan hasil seperti Fakhri.

Publik sangat berharap agar Bima benar-benar cerdas memilih pemain terbaik yang berhak berjersey Timnas karena memang layak dan memenuhi standar pemain Timnas.

Perlu BIma atau PSSI ketahui, menjamurnya pembinaan sepakbola akar rumput (usia dini dan muda) yang dilakukan oleh pihak swasta, dan disiapkan pula kompetisinya oleh pihak swasta, mengakibatkan percepatan luar biasa atas lahirnya pemain muda bertalenta yang sama-sama memiliki hak berjersey Timnas.

Jadi, siapapun pemain yang berada di Timnas U-16 bukan pemain titipan, yang justru menghentikan kesempatan pemain lain yang lebih memiliki standar sebagai pemain Timnas.

Sebab, andai 34 provinsi di Indonesia adalah negara, maka sejatinya, bisa lahir 34 Timnas atas nama 34 provinsi. Dapat dibayangkan, betapa melimpahnya stok pemain muda di Indonesia, namun Indonesia hanya butuh 1 Timnas.

Tengok Kompetisi swasta yang cukup signifikan melahirkan pemain Timnas U-16 sebelumnya. Liga TopSkor dan Liga Kompas Gramedia di sektor usia muda yang ditopang oleh kompetisi Indonesia Junior Soccee Leauge (IJSL) dan Indonesia Junior League (IJL) di sektor usia dini, cukup signifikan menaikkan teknik, intelegensi, personaliti, dan speed (TIPS) pemain.

Selain itu, PSSI juga harus belajar dari kesalahan. Tidak perlu malu mengakui bahwa lahirnya pemain-pemain muda adalah hasil jerih dan kerja keras pihak swasta mulai dari orangtua yang membiayai anaknya masuk SSB, lalu SSB yang membina dan melatih tanpa peduli panas dan hujan dan kekurangan dana dan dukukungan stakeholder terkait, lalu pihak swasta yang memfasilitasi wadah kompetisi yang anggarannya juga patungan dari oramgtua pemain.

Sayang lahirnya Liga Elite Pro, klub Liga 1 pun seperti menisbikan SSB dan orangtua yang sejak awal membiayai lahirmya pemain handal. Masa Klub Liga 1 justru didukung PSSI dengan membuat regulasi pemain yang membelanya di Elit Pro malah harus ada Surat Keluar dari SSB yang membinanya.

Maka pantaslah Askot PSSI Denpasar membuat regulasi proteksi pemain muda. Adakah karena hal ini PSSI tersadar dan tersindir?  Malah akan mwlanjutkan program Garuda Select di tahun berikutnya. Hebatnya Sekjen PSSI sekarang. Mau memetik tanpa keluar biaya dan menanam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun