Potret media sosial yang dibanjiri dengan ujaran kebencian pada akhir-akhir ini menjadi semakin mengkhawatirkan. Perdebatan, pertengkaran, saling bully, saling tuduh, berkata kasar adalah gambaran situasi percakapan netizen di media sosial pada masa sekarang. Etika dan kearifan lokal budaya Indonesia yang dikenal ramah dan santun seolah hilang dalam interaksi di media sosial. Tidak sedikit yang akhirnya harus berurusan dengan hukum akibat dari penggunaan media sosial yang terlewat batas.
Terlebih pertikaian dua kudu yang sedang ramai saat ini merembet dan menyeret lapisan masyarakat digital untuk saling berkomentar dan mencaci maki satu sama lain. Termasuk mungkin di antaranya adalah anak kita. Ya, mau bagaimana lagi, media online sudah menjelma menjadi media milik semua orang. Siapapun dapat mengakses dan terlibat dalam perputaran informasi di media online, termasuk anak-anak sekalipun. Memang miris rasanya membayangkan jika salah satu orang yang menulis ujaran kebencian tersebut adalah anak kita.
Hal itu bukanlah tidak mungkin. Tanpa pengawasan orang tua, baik tidak disengaja maupun disengaja anak dapat membaca dan terlibat langsung hingga terseret sebagai pelaku dalam ujaran kebencian. Berawal dari browsing yang mungkin tidak ada kaitannya dengan ujaran kebencian hingga scroll media sosial lalu tidak sengaja membaca komentar-komentar yang bernarasikan negatif. Pada teori jarum hipodermik dikatakan bahwa media memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi khalayaknya. Dalam konteks berselancar di media online tadi, Awalnya mungkin anak tidak terlalu memperhatikan, tetapi jika terus menerus terkena terpaan ujaran kebencian di media, bukan mustahil anak juga akan ikut terdorong untuk berkomentar negatif pula.
Pengawasan orang tua terhadap perilaku anak bermedia sosial memang sangat diperlukan. Terutama peran ibu yang digadang-gadang sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama untuk anak. Peran ayah memang penting namun sebagian besar keluarga di Indonesia beranggapan bahwa ibu merupakan poros utama dalam keluarga.
Peran ibu yang “diharapkan” ulet dan tangguh dalam kehidupan berkeluarga dan mendidik anak merupakan salah satu ciri ketahanan keluarga yang diharapkan dimiliki oleh tiap keluarga. Menurut UU No. 10 tahun 1992, definisi ketahanan keluarga adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri, mengembangkan diri dan keluarganya untuk mencapai keadaan harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin.
Ketika suatu keluarga memiliki ketahanan yang baik maka keluarga tersebut dapat dibentengi oleh berbagai terpaan hal negatif termasuk ujaran kebencian. Ujaran kebencian yang terlintas saat anak sedang bermedia sosial dapat ditangani dengan Ibu yang berperan aktif dalam membimbing anak untuk menunjukkan mana hal baik dan yang tidak saat bermedia sosial. Ibu yang selalu bijak dalam membimbing anak bermedia sosial akan menjadi contoh baik bagi anaknya. Sehingga diharapkan kedepannya anak juga akan meniru sosok ibunya yang juga bijak dalam bermedia sosial./smi
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H