Mohon tunggu...
Dr Ing. Suhendra
Dr Ing. Suhendra Mohon Tunggu... Dosen - Konsultan, technopreneur, dosen, hobby traveller

Tinggal di Jogja, hoby travel dan baca. Sehari-hari sebagai konsultan, dosen dan pembina beberapa start-up

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Dari Suriah ke Ukraina: Bagaimana Jerman Mensikapi Isu Imigran sejak 2015

2 Februari 2025   19:25 Diperbarui: 2 Februari 2025   21:57 80
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Parlemen Jerman. (Foto pribadi)

Dari Suriah ke Ukraina: Bagaimana Jerman Mensikapi Isu Migrasi sejak 2015

Dr.-Ing. Suhendra. Dosen Universirtas Ahmad Dahlan Yogyakarta, pengamat Sosial, Ekonomi dan Teknologi Eropa

Dalam satu dekade terakhir, isu migrasi telah menjadi salah satu topik politik, sosial, dan ekonomi yang paling signifikan di Jerman.  Menjelang pemilu Jerman yang dipercepat, isu imigran menjadi tema panas. Perjalanan panjang ini mencerminkan dinamika global yang melibatkan konflik, krisis kemanusiaan, dan tantangan integrasi. Tulisan ini ingin memberikan gambaran perjalanan sepuluh tahun yang penuh gejolak imigran di Jerman ikut mempengaruhi politik dalam dan luar negeri Jerman. Di akhir tulisan, hikmah untuk 

Menjelang pemilu di Jerman, isu migrasi kembali menjadi topik hangat yang memicu perdebatan di berbagai lapisan masyarakat. Ketegangan politik meningkat seiring dengan munculnya berbagai kebijakan yang berusaha mengatasi lonjakan migran, terutama dari kawasan Timur Tengah dan Afrika. Pemerintah Jerman menghadapi dilema antara menjaga stabilitas sosial dan ekonomi dengan tetap mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang telah lama menjadi ciri khas negara tersebut. Partai-partai politik, baik dari sayap kanan maupun kiri, berlomba-lomba menawarkan solusi yang sering kali berseberangan, mencerminkan perbedaan pandangan dalam menyikapi dampak migrasi terhadap kesejahteraan masyarakat. Terakhir, pembunuhan yang dilakukan oleh seorang imigran dari Aghanistan di Aschaffenburg, Jerman, 22 Januari 2025 lalu, semakin meningkatkan eskalasi gejolak emosi publik terhadap sentimen negatif terhadap imigran.

Di tengah perdebatan tema imigran ini, opini publik terpecah antara mereka yang melihat migran sebagai ancaman terhadap ketenagaman budaya dan mereka yang menganggapnya sebagai peluang untuk memperkuat ekonomi Jerman yang membutuhkan tenaga kerja baru. Media dan kelompok masyarakat sipil turut memainkan peran besar dalam membentuk narasi seputar kebijakan migrasi, baik dalam mendukung integrasi maupun menyoroti tantangan yang muncul. Dengan meningkatnya retorika politik yang semakin tajam, pemilu mendatang diprediksi akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana para kandidat menangani isu migrasi, yang bukan hanya berdampak pada kebijakan dalam negeri, tetapi juga pada posisi Jerman dalam lanskap politik Eropa secara keseluruhan.

Gelombang Pengungsi hingga Isu Migrasi

Sejak tahun 2015, Jerman menghadapi tantangan besar dalam menangani gelombang pengungsi yang datang akibat konflik di Timur Tengah, khususnya perang saudara di Suriah. Kebijakan keterbukaan yang diadopsi oleh pemerintah Jerman pada saat itu menuai pujian sekaligus kontroversi, memicu perdebatan sengit tentang dampak sosial, ekonomi, dan politik dari arus migrasi yang besar. Seiring waktu, isu migrasi berkembang menjadi salah satu topik utama dalam dinamika politik Jerman, mempengaruhi kebijakan pemerintahan, menguatkan gerakan sayap kanan, dan menimbulkan tantangan dalam proses integrasi. Dari krisis pengungsi Suriah hingga eksodus akibat invasi Rusia ke Ukraina, perjalanan Jerman dalam menghadapi migrasi mencerminkan kompleksitas global yang terus berubah dan mempengaruhi arah kebijakan masa depan negara tersebut.Berikut adalah uraian sejarah isu migrasi di Jerman sejak tahun 2015.

2015: Krisis Pengungsi Suriah

Pada tahun 2015, Jerman menghadapi salah satu gelombang migrasi terbesar dalam sejarah modern akibat perang saudara di Suriah. Hampir satu juta pengungsi tiba di negara tersebut, mayoritas dari Suriah, Afghanistan, dan Irak. Kanselir Angela Merkel mengadopsi kebijakan terbuka dengan slogan terkenal, "Wir schaffen das" ("Kita bisa mengatasinya").

Namun, kebijakan ini memicu perdebatan sengit. Di satu sisi, Merkel dipuji karena pendekatannya yang humanis, tetapi di sisi lain, ada kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekonomi, keamanan, dan integrasi sosial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun