Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi - Merayakan Nafas, Syukur, dan Usia

21 Oktober 2016   01:38 Diperbarui: 25 Oktober 2016   16:09 173
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
asap mengepul menjadi bulatan putih

Nafas

keluar-masuk udara lewat rongga hidung ke paru
 20 kali per menit, oksigen - nitrogen, sepanjang hari
 udara gratis, juga hidung dan paru
 kemudian, suatu hari, nafas tersengal dan henti

hidup tak hanya nafas, tapi tanpa bernafas
 tiada ada hidup, begitu pun banyak hal lain
 namun kesadaran seolah pingsan sepanjang hayat
 tak mampu mengerti hari yang dilipat

seluruh hari dalam hidupku – hidupmu
 niscaya cuma tiga, kemarin – hari ini – esok
 yang lalu tinggal kenangan dan kearifan, jika didapat
 hari ini perjuangan, namun esok belum pasti

 esok hanya milik mereka yang berserah
yang belum tentu datang, esok sebatas harap
 memaknai hari ini seraya menghitung nafas
 menderas dzikir, menjalani takdir

bila dada menyesak, nafas tercerabut lemas
 apa yang mesti kusangkal kemahaanMu, ya Rob!

Syukur

silau mata, silam
negeri tetangga lebih gemerlap
nganga dan kagum
tertelikung gagap

kadang sampai lupa  
syukur, lalai lara
mengaduh betapakah
hilang gairah

syukur ini terbebat sadar
berserah cepat
sujud selami sesal
bila akhir masih meletupkan harap!

Usia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun