Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Teriakan dari Ladang Cabai, Jebakan Tikus Makan Korban

13 Oktober 2020   20:50 Diperbarui: 14 Oktober 2020   18:38 312
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumentasi Tribunnews/Surya

Listrik punya banyak peruntukan. Peran utamanya untuk penerangan, lalu bertambah banyak untuk menghidupan aneka perabotan rumah-tangga. Lama-kelamaan listrik menjadi kebutuhan primer, termasuk untuk kelancaran komunikasi. Alangkah senang dan terbantunya warga perkotaan hingga warga pelosok desa terpencil yang wilayahnya telah teraliri listrik.

Aliran listrik juga dapat digunakan untuk alat pembunuh. Untuk pelaksanaan hukuman mati, misalnya. Di desa-desa pertanian, salah satu cara memberantas hama tanaman menggunakan jebakan listrik. Celakanya, kerap jebakan itu bukan hanya memberantas tikus, melainkan juga membunuh orang yang pembuat jebakan serta keluarganya, maupun orang lain.

Di Desa Tambakrejo, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (12/10/2020) sepasang suami-isteri dan dua anak mereka menjadi korban jebakan tikus beraliran listrik tegangan tinggi. Mereka yaitu Parno (suami), Reswati (istri), dan kedua anak mereka, Jayadi dan Arifin. Keluarga itu sedang menyirami tanaman cabai pada malam hari.

Semula yang berada di ladang cabai hanya Parno, Reswati dan Jayadi. Arifin berada di rumah, lalu menyusul ke ladang. Reswati pulang lebih dahulu. Tetapi sampai malam ketiganya belum juga pulang. 

Reswati menyusul lagi ke ladang dan mendapati suami dan duanya anak tersengat listrik. Mungkin ia berusaha menolong, nyawanya pun ikut terenggut. Jasad keempat korban ditemukan warga sudah terlilit kabel listrik.

Malam itu empat teriakan dari ladang cabai terdengar. Saat ditelusuri ke sumber suara, warga kaget mendapati empat orang tergeletak tidak bernyawa. Saat itu juga warga langsung melapor kepada aparat pemerintahan desa dan ke kepolisian terdekat.

Dok: suarajatimpos
Dok: suarajatimpos

Jebakan di Ngawi Tewaskan 24 Warga

Di Ngawi, Jawa Timur, jebakan tikus menggunakan listrik juga membawa korban jiwa. Cukup banyak jumlahnya, yaitu 24 korban tewas dari 24 kasus. Data itu tercatat sejak awal tahun 2020 hingga bulan September lalu.

Padahal sejak lama penggunaan listrik untuk jebakan tikus telah dilarang Pemda setempat. Tetapi warga mengaku tidak punya pilihan lain.

Jebakan tikus biasanya dipasang melintang di tengah sawah, atau di pematang sawah. Gundukan tanah memanjang pembatas satu areal sawah dengan areal sawah lain itu biasanya juga digunakan untuk penjalan kaki (baik pemilik/buruh tani, maupun warga pengambil jalan pintas).

Jebakan tikus itu dialiri listrik pada malam hari, pagi hari berikutnya dimatikan. Namun, tak jarang si pemilik sawah lupa mematikan. Selain itu, keberadaan jebakan tikus tanpa disertai tanda peringatan/bahaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun